Media Kampung – Sumenep – Ratusan cahaya lampion berwarna-warni menghiasi langit malam di Dusun Maraan, Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep pada Sabtu, 20 Juni 2026. Pawai Muharram 1448 Hijriah yang digelar Yayasan Pesantren Nurul Asrar menjadi ajang masyarakat setempat menyambut Tahun Baru Islam dengan semangat hijrah dan kebersamaan.

Sejak usai salat Magrib, halaman sekitar titik keberangkatan mulai dipadati peserta. Anak-anak santri sibuk merapikan lampion berbentuk bulan sabit, masjid, dan bintang. Wajah ceria mereka memancarkan semangat menyambut tahun baru yang bukan sekadar pergantian angka, melainkan momentum memperbarui niat dan memperkuat keimanan.

Rombongan mulai bergerak, cahaya lampion bergoyang mengikuti langkah peserta, menciptakan pemandangan memikat. Warga berdiri di depan rumah dan pinggir jalan, sebagian mengabadikan momen dengan telepon genggam, yang lain menikmati suasana hangat yang hanya hadir setahun sekali.

Bagi masyarakat Saroka, pawai Muharram telah menjadi tradisi yang melekat dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Tradisi ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai generasi. Santri, alumni, orang tua, hingga tokoh masyarakat berjalan berdampingan dalam satu barisan, menyatukan langkah dan harapan di awal tahun Hijriah.

Ketua Panitia, Abd Hayyi, menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai Islam sekaligus upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, makna utama peringatan Muharram adalah mengajak umat Islam untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

“Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan yang kurang baik menuju perilaku yang lebih baik. Tahun Baru Islam harus menjadi momentum refleksi diri agar kita terus meningkatkan keimanan, memperbaiki akhlak, dan mempererat silaturahmi,” ujarnya.

Pesan itu seakan tercermin dari setiap langkah peserta pawai. Lampion yang mereka bawa bukan hanya hiasan, melainkan simbol cahaya harapan. Harapan agar tahun yang baru membawa keberkahan, kedamaian, dan semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Saat rombongan tiba di Mushalla Nurul Asrar, suasana khidmat menggantikan kemeriahan perjalanan. Doa-doa dipanjatkan bersama, memohon keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru. Bagi masyarakat yang hadir, malam itu bukan hanya tentang pawai, tetapi tentang merawat kebersamaan dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah arus modernisasi, tradisi pawai lampion Muharram di Saroka menjadi pengingat bahwa nilai kebersamaan, persaudaraan, dan semangat hijrah tetap dapat diwariskan kepada generasi muda. Cahaya lampion yang menerangi jalan desa malam itu seolah membawa pesan sederhana: setiap langkah menuju kebaikan akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju cahaya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.