Wamenkum Pancasila Fondasi Kepercayaan Sosial Bangsa: Pilar Harmoni dan Martabat Manusia
Media Kampung – Jakarta – Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkum), Edward Omar Sharif Hiariej menegaskan bahwa Wamenkum Pancasila Fondasi Kepercayaan Sosial Bangsa adalah hal yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia. Dalam sebuah diskusi daring bertajuk Merajut Kebersamaan Nilai Pancasila sebagai Jiwa Pemersatu Bangsa pada Jumat malam, 29 Mei 2026, ia menyampaikan bahwa kepercayaan sosial dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan fondasi utama agar kehidupan sosial dapat berjalan dengan adil dan beradab.
Krisis Nilai Global dan Kebutuhan Memperkuat Kepercayaan Sosial
Wamenkum mengungkapkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi krisis nilai yang serius. Mengutip laporan UNESCO 2021 berjudul Imagining Our Futures Together, ia menyebutkan bahwa normalisasi kekerasan, ketidaksetaraan, serta hilangnya rasa hormat terhadap sesama telah mengancam keberlangsungan kehidupan masyarakat secara global. Oleh sebab itu, menurutnya, membangun kembali kepercayaan sosial menjadi kunci utama untuk memulihkan dan merawat masyarakat yang sehat dan beradab.
Lebih lanjut, kepercayaan sosial dianggap sebagai perekat penting yang memungkinkan penegakan hukum berjalan secara adil dan harmonis. Namun, Wamenkum menekankan bahwa kepercayaan sosial tidak akan tumbuh tanpa adanya pengakuan tulus terhadap martabat manusia secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki nilai intrinsik yang wajib dihormati tanpa memandang latar belakang ras, suku, agama, maupun status sosial.
Pancasila Sebagai Jembatan Emosional dan Sosial Bangsa
Salah satu poin utama dari Wamenkum Pancasila Fondasi Kepercayaan Sosial Bangsa adalah peran Pancasila sebagai jembatan emas yang mempertemukan nilai martabat manusia dan kepercayaan sosial bangsa Indonesia. Sila kedua Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, ditegaskan sebagai bentuk penghormatan terhadap martabat manusia bersama. Wamenkum menyatakan bahwa penghormatan ini akan memperkuat persatuan yang diamanatkan dalam sila ketiga dan melahirkan kepercayaan sosial yang kokoh di masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai adil dan beradab tidak boleh sekadar menjadi teori tertulis di atas kertas. Nilai tersebut harus diaplikasikan dalam tindakan nyata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Untuk menerjemahkan nilai Pancasila ke dalam praktik nyata, Wamenkum menyebutkan program literasi keagamaan lintas budaya sebagai instrumen strategis. Program ini telah menjangkau lebih dari sebelas ribu guru dan ratusan aparatur penegak hukum di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah membangun kompetensi kolaboratif, yakni kemampuan bekerja sama demi kebaikan bersama, khususnya dalam menjunjung tinggi keadilan sosial dan menjaga martabat kemanusiaan.
Program ini juga melatih kompetensi pribadi untuk memahami keyakinan diri sendiri secara mendalam dan utuh, sekaligus mendorong kompetensi komparatif dan kolaboratif agar dapat menjaga keadilan sosial dan martabat kemanusiaan bersama.
Makna Hari Lahir Pancasila dan Kontribusi Indonesia untuk Perdamaian Dunia
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan HAM, Gusti Ayu Putu Suwardani, menambahkan makna penting dari peringatan Hari Lahir Pancasila 2026. Ia menjelaskan bahwa terdapat hubungan kausalitas yang kuat antara persatuan bangsa dengan upaya membangun fondasi perdamaian dunia secara berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia tidak dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga perdamaian dunia tanpa terlebih dahulu berhasil merawat keberagaman dan harmoni internal di dalam negeri.
Keberhasilan Indonesia dalam menjaga harmoni internal ini bukan hanya menjadi modal utama, melainkan juga menjadi cetak biru kebersamaan yang dapat ditawarkan kepada dunia internasional sebagai contoh dan inspirasi.
Memperkuat Fondasi Kepercayaan Sosial untuk Masa Depan Bangsa
Dengan segala upaya tersebut, Wamenkum Pancasila Fondasi Kepercayaan Sosial Bangsa menjadi titik sentral dalam menjaga keutuhan dan keharmonisan bangsa Indonesia. Penerapan nilai Pancasila secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama penghormatan terhadap martabat manusia dan penegakan keadilan sosial, akan memperkokoh persatuan serta menumbuhkan kepercayaan sosial yang kuat.
Program literasi lintas budaya yang melibatkan guru dan aparat hukum menjadi salah satu langkah strategis yang konkret untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur Pancasila ke dalam tindakan nyata yang berdampak luas.
Dengan demikian, bangsa Indonesia dapat terus menjaga keharmonisan internal sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perdamaian dunia. Nilai-nilai Pancasila harus terus dijunjung tinggi sebagai fondasi moral dan sosial demi masa depan bangsa yang lebih adil, beradab, dan bersatu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan