Media Kampung – Foto Mengintip Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo, Borobudur menyajikan momen menakjubkan ketika ribuan cahaya meluncur bersama arus air, menandai perayaan Trisuci Waisak 2570 BE. Ratusan peserta berkumpul di tepi Sungai Progo, Wanurejo, Magelang, pada Jumat (29/5/2026) untuk menyalakan pelita pada gunungan kayu sebelum menghanyutkannya, menciptakan pemandangan yang memukau sekaligus sarat makna spiritual.

Latar Belakang Ritual Larung Pelita

Larung Pelita Purnama Sidhi merupakan bagian integral dari tradisi Waisak yang dirayakan di kawasan Borobudur, situs warisan dunia UNESCO. Ritual ini telah dilaksanakan sejak abad ke-9, dengan tujuan utama menyebarkan cahaya kebaikan kepada semua makhluk. Tahun ini, perayaan bertepatan dengan peringatan Trisuci, yakni tiga pilar ajaran Buddha: Buddha, Dharma, dan Sangha.

Pelaksanaan Larung Pelita di Sungai Progo

Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh bhikkhu senior, diikuti oleh penyalaan pelita secara serentak. Setiap pelita diletakkan pada gunungan kecil yang terbuat dari bambu dan anyaman tradisional, lalu dijatuhkan ke dalam aliran Sungai Progo yang jernih. Foto Mengintip Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo, Borobudur berhasil menangkap kilau cahaya yang menari di atas air, memperlihatkan ratusan titik cahaya yang meluncur bersamaan.

Proses penghanyutan berlangsung selama kurang lebih satu jam, dengan aliran air membawa pelita ke hilir, melambangkan penyebaran ajaran Buddha ke seluruh penjuru dunia. Keberadaan gunungan kayu sebagai dasar pelita menambah nilai simbolik, mengingatkan akan pentingnya fondasi moral dalam kehidupan umat.

Makna Simbolik di Balik Setiap Pelita

  • Penerangan: Pelita melambangkan cahaya pengetahuan yang menuntun makhluk hidup keluar dari kegelapan kebodohan.
  • Perdamaian: Melontarkan pelita ke sungai menandakan harapan akan perdamaian yang mengalir tanpa henti.
  • Harapan: Setiap nyala menandakan doa pribadi dan kolektif untuk masa depan yang lebih baik.

Reaksi Peserta dan Masyarakat Setempat

Berbagai kalangan, mulai dari warga lokal, peziarah, hingga wisatawan domestik, menyatakan kekaguman mereka. Seorang peserta yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, “Melihat ribuan pelita mengalir di Sungai Progo memberi rasa damai yang sulit diungkapkan dengan kata.” Sementara pedagang sekitar melaporkan peningkatan penjualan makanan tradisional dan souvenir religius.

Foto Mengintip Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo, Borobudur juga menjadi viral di media sosial, menambah eksposur budaya dan spiritualitas Indonesia di tingkat internasional.

Aspek Lingkungan dan Keberlanjutan

Panitia memastikan bahwa semua material yang digunakan ramah lingkungan. Pelita terbuat dari lilin kedelai, dan gunungan dibangun dari bahan yang dapat terurai secara alami. Setelah acara, sisa-sisa material dikumpulkan dan didaur ulang, menegaskan komitmen terhadap pelestarian alam sekitar Candi Borobudur.

Dengan menggabungkan tradisi kuno dan kesadaran ekologis, ritual ini menjadi contoh sinergi budaya dan lingkungan yang dapat ditiru di daerah lain.

Secara keseluruhan, Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo tidak hanya memperkuat ikatan spiritual masyarakat, tetapi juga menegaskan nilai kebersamaan, perdamaian, dan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Foto Mengintip Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo, Borobudur menjadi bukti visual yang menginspirasi, mengajak setiap penonton untuk merenungkan peran cahaya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan ribuan cahaya yang mengalir bersama aliran sungai, ritual ini menutup babak perayaan Waisak tahun ini, sekaligus membuka harapan baru bagi generasi mendatang untuk terus menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.