Media Kampung – Piala Dunia bukan hanya ajang pertandingan sepak bola paling bergengsi, tetapi juga menjadi panggung bagi ritual dan doa yang dilakukan para pendukung untuk mendukung tim kesayangan mereka. Di balik gemerlap stadion dan sorak sorai suporter, tersimpan kisah-kisah spiritual yang mengiringi perjalanan tim menuju kejayaan. Mulai dari nazar hingga legenda kutukan, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari atmosfer turnamen.

Salah satu cerita paling terkenal datang dari Argentina. Menjelang Piala Dunia 1986 di Meksiko, skuad Albiceleste dikabarkan menjalani persiapan di Tilcara, sebuah wilayah pegunungan di ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Di sana, para pemain berlatih sekaligus berdoa. Mereka bernazar jika berhasil menjadi juara dunia, akan kembali ke Tilcara dengan membawa trofi sebagai bentuk rasa syukur. Argentina akhirnya juara berkat keajaiban Diego Maradona, namun janji untuk kembali ke Tilcara tidak pernah dipenuhi. Sejak itu, muncul kepercayaan di kalangan pendukung bahwa Argentina mengalami “kutukan Tilcara” yang membuat mereka gagal juara di berbagai edisi berikutnya hingga akhirnya terpecahkan pada 2022.

Ritual serupa juga terjadi di Kongo. Saat tim nasional RD Kongo menahan imbang Portugal 1-1 pada laga pembuka Piala Dunia 2026, euforia menyebar dari ibu kota Kinshasa hingga kamp pengungsi Musasa. Suporter turun ke jalan, bernyanyi dan menari, menganggap hasil itu sebagai berkah dan jawaban doa. Bagi mereka, sepak bola adalah alat pemersatu yang melampaui kesulitan hidup.

Di sisi lain, ada juga ritual yang lahir dari kekecewaan. Gol “Tangan Tuhan” Maradona pada perempat final Piala Dunia 1986 antara Inggris dan Argentina menjadi luka mendalam bagi kiper Inggris Peter Shilton. Ia mengaku sakit hati karena Maradona tidak pernah meminta maaf atas kecurangan itu. Shilton bahkan menolak bertemu Maradona setelah pertandingan. Bagi Shilton, kejadian itu menunjukkan bahwa sepak bola juga bisa menjadi ajang pengadilan moral, di mana doa dan harapan tidak selalu berbuah keadilan.

Tradisi spiritual ini juga diabadikan dalam berbagai novel bertema Piala Dunia. Misalnya, novel “Keeper” karya Mal Peet yang mengisahkan wawancara eksklusif dengan kiper legendaris El Gato setelah timnya menjuarai Piala Dunia. Cerita ini memadukan olahraga dengan nuansa petualangan dan sentuhan kisah hantu. Ada pula “Death of the Soccer God” yang mengikuti perjalanan pemain Haiti Gilbert Chevalier di Piala Dunia 1950, menggambarkan bagaimana doa dan spiritualitas menyertai setiap langkahnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga, melainkan juga panggung bagi keyakinan, harapan, dan ritual. Para pendukung tidak hanya mengandalkan skill pemain, tetapi juga kekuatan doa dan nazar untuk meraih kemenangan. Entah itu nazar untuk kembali ke Tilcara, doa di kamp pengungsi, atau sekadar berharap keajaiban Tangan Tuhan, semua menjadi bagian dari cerita yang membuat Piala Dunia begitu kaya akan makna.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.