Media Kampung – Toleransi Antarumat Beragama Lewat Tradisi Kurban Kerbau-Kambing di Menara Kudus menjadi sorotan utama pada perayaan Idul Adha tahun ini, ketika ribuan warga berkumpul menyaksikan penyembelihan yang dijalankan tanpa menyentuh hewan sapi. Tradisi ini tidak hanya menegaskan nilai keagamaan, namun juga memperlihatkan warisan toleransi yang diturunkan sejak masa Sunan Kudus.

Sejarah dan Ajaran Sunan Kudus

Menurut Ketua Panitia Kurban YM3SK, Muhammad Faqol Ahzab, larangan menyembelih sapi berakar dari upaya Sunan Kudus pada abad ke-16 untuk menghormati umat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci. “Dulu, ketika Sunan Kudus menyebarkan Islam, beliau menghormati kepercayaan Hindu setempat. Karena itu, tradisi menyembelih hanya kerbau dan kambing dipertahankan hingga kini,” ungkap Ahzab.

Pelaksanaan Penyembelihan Tahun 2026

Pada Jumat, 12 Zulhijah 1448 H (29 Juni 2026), panitia menerima 16 ekor kerbau dan 37 ekor kambing dari warga sekitar serta donatur. Penyembelihan dilakukan di dua area: selatan Menara Kudus untuk pemotongan hewan, dan area parkir untuk pembungkusan daging menggunakan daun jati. Lebih dari 400 relawan terlibat, mulai dari tenaga penyembelihan, pembolang, hingga keamanan dan kebersihan.

Distribusi Daging dan Dampak Sosial

Setelah proses penyembelihan, daging dibungkus rapi dalam daun jati dan diserahkan kepada koordinator kecamatan (korcam). Melalui jaringan korcam, daging didistribusikan ke sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus, menjangkau sekitar 12.000 rumah tangga dengan porsi dua ons per keluarga. Pendekatan ini menghindari antrean panjang di area Menara Kudus dan memastikan bantuan sampai tepat waktu.

Makna Toleransi dalam Praktik

Tradisi ini menjadi wujud nyata Toleransi Antarumat Beragama Lewat Tradisi Kurban Kerbau-Kambing di Menara Kudus. Dengan menghormati nilai-nilai Hindu, komunitas Muslim di Kudus menegaskan komitmen mereka terhadap kerukunan sosial. “Harapan kami, pelaksanaan kurban ini menjadi momentum meningkatkan keimanan kepada Allah SWT serta menjalin ukhuwah islamiah,” kata Ahzab. Selain menumbuhkan rasa kebersamaan, kegiatan ini juga memperkuat dialog lintas agama, mengingat banyak warga non-Muslim turut menikmati daging kurban sebagai bagian dari kebersamaan desa.

Secara keseluruhan, tradisi unik ini tidak hanya menegakkan nilai religius, tetapi juga menjadi contoh konkret bagaimana warisan sejarah dapat dijadikan landasan toleransi modern. Dengan tetap mengedepankan prinsip saling menghormati, Menara Kudus berhasil menjadikan kurban kerbau‑kambing sebagai simbol persatuan antarumat beragama di Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.