Media Kampung, Sumatera Selatan – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Taman Nasional Berbak dan Sembilang di Sumatera Selatan terus meluas dan mengancam habitat satwa liar, khususnya harimau sumatera. Kebakaran yang bermula dari daerah Bagan 9, Desa Tanah Pilih, Kabupaten Banyuasin sejak awal September ini sulit dipadamkan karena medan yang sulit dan akses terbatas.
Kesulitan Pemadaman dan Penyebaran Api
Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Yunaidi, menjelaskan bahwa lokasi kebakaran berada di area gambut dengan kedalaman hingga 2 meter. Kondisi ini menyebabkan api sulit dipadamkan secara tuntas karena bagian bawah gambut bisa kembali terbakar saat cuaca panas. Kesulitan akses jalan dan sungai yang kering memperlambat upaya pemadaman oleh petugas Manggala Agni yang harus menembus hutan sejauh 4-5 kilometer untuk mencapai titik api.
Water bombing oleh BNPB Sumsel sudah dilakukan sejak awal September, namun api masih belum sepenuhnya padam. Dalam tiga hari terakhir, alat berat berupa traktor diterjunkan untuk membuka akses darat menuju lokasi kebakaran. Tim Manggala Agni dari Jambi yang berjumlah 20 orang berupaya menembus hutan untuk melakukan pemadaman lebih efektif.
Luas Area Terbakar dan Dampak Asap
Estimasi luas lahan yang terbakar diperkirakan telah melebihi 4.000 hektare, meskipun pemetaan lebih akurat masih menunggu proses pendinginan dan penggunaan drone. Asap kebakaran cenderung mengarah ke Provinsi Jambi mengikuti arah angin, membuat dampak kualitas udara juga dirasakan di luar wilayah administratif Sumatera Selatan.
Ancaman Terhadap Habitat Satwa Liar
Taman Nasional Berbak dan Sembilang merupakan habitat penting bagi berbagai satwa liar, termasuk harimau sumatera, beruang, serta hewan mangsa harimau seperti rusa dan babi hutan. Meski saat ini harimau sumatera masih dinilai aman karena habitatnya berada di area hutan dengan vegetasi lebat, perlu diwaspadai jika kebakaran terus meluas dapat mengancam ekosistem dan kelangsungan hidup satwa tersebut.
Vegetasi yang terbakar sebagian besar berupa semak belukar dan pakis-pakisan yang kering, yang mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api. Hal ini memperburuk kondisi karena lahan gambut yang terbakar dapat menyimpan api berhari-hari bahkan setelah permukaan terlihat padam.
Upaya dan Harapan Pemadaman
Petugas terus mencari sumber air terdekat untuk mempercepat proses pemadaman dan mengatasi kebakaran yang sulit dijangkau. Pengerahan tim dan alat berat diharapkan dapat membantu menembus medan sulit sehingga pemadaman dapat dilakukan secara lebih efektif. Namun, kondisi medan, kedalaman gambut, dan cuaca panas menjadi tantangan utama dalam mengatasi karhutla ini.
Kebakaran di Taman Nasional Berbak dan Sembilang menjadi perhatian penting karena tidak hanya merusak lingkungan dan menimbulkan polusi udara, tetapi juga mengancam habitat satwa langka yang dilindungi. Upaya bersama dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menghentikan penyebaran api dan menjaga kelestarian taman nasional ini.














Tinggalkan Balasan