Media Kampung, Kalimantan Selatan – Hujan pertama yang turun di wilayah Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada 2 September 2026 menarik perhatian karena air hujan tersebut berwarna hitam pekat. Fenomena ini terjadi setelah musim kemarau panjang disertai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut.
Video singkat yang merekam hujan hitam ini viral di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian merasa sedih melihat kondisi lingkungan yang terdampak karhutla, sementara yang lain memberikan penjelasan terkait penyebab warna hitam pada air hujan tersebut.
Penyebab Hujan Hitam
Warna hitam pada hujan ini diduga kuat berasal dari partikel-partikel kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan yang masih tersisa di udara. Selain itu, debu, kerak, dan abu yang menumpuk selama musim kemarau panjang di permukaan genting dan atap rumah ikut terbawa air hujan sehingga memperkuat warna kehitaman.
Dampak Positif Hujan Setelah Karhutla
Meskipun air hujan berwarna hitam, hujan ini memiliki manfaat penting dalam mengendalikan kondisi lingkungan. Hujan efektif menurunkan intensitas titik api yang masih menyala, melembapkan lahan gambut yang rentan terbakar, serta membantu membersihkan kualitas udara dari partikel kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan.
Konteks dan Pentingnya Pemantauan
Fenomena hujan hitam ini menjadi indikator penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus memantau dan mengelola dampak karhutla yang terjadi. Penanganan kebakaran hutan dan lahan secara tepat waktu serta upaya rehabilitasi lingkungan sangat krusial untuk mencegah kerusakan yang lebih parah dan menjaga kualitas udara yang sehat.
Dengan pemahaman dan kesadaran yang lebih baik, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi masalah karhutla dan dampaknya.















Tinggalkan Balasan