Media Kampung – Perayaan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus di Gereja Katedral Jakarta membawa pesan mendalam tentang pentingnya merengkuh denyut napas bumi. Dalam misa yang diadakan pada 14 Mei 2026, Pastor Romo Yohanes Deodatus SJ menekankan tiga pesan penting dari perayaan suci ini, yang tidak hanya berkaitan dengan kisah langit, melainkan juga dengan perjalanan manusia dalam membersihkan hati, mendengarkan nurani, dan menjaga sesama dengan kasih.

Romo Deo menjelaskan bahwa Yesus tidak langsung naik ke surga setelah kebangkitan, melainkan hadir selama 40 hari untuk menemani para murid, menyalakan keberanian, dan meninggalkan damai di tengah ketakutan manusia. Ia menegaskan bahwa Roh Kudus menjadi kompas sunyi dalam batin manusia, menuntun langkah menuju keadilan dan kemanusiaan. Ketika nurani mulai redup, manusia perlahan kehilangan arah dan mudah melukai sesamanya sendiri.

Salah satu jemaat, Eva, memaknai perayaan ini dengan melakukan tindakan kecil yang menjaga bumi tetap bernapas, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menggunakan transportasi umum. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjaga iman di dalam hati, tetapi juga menjaga bumi sebagai rumah yang dititipkan Tuhan.

Tema keutuhan alam ciptaan dalam Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus 2026 disorot tajam dalam khotbah misa. Romo Deo mengaitkannya dengan kondisi lingkungan Jakarta yang semakin memprihatinkan, dengan polusi udara yang tinggi dan kualitas udara yang buruk. Ia menilai bahwa persoalan sampah dan kualitas udara bukan lagi sekadar isu kota besar, melainkan tanda bumi sedang meminta manusia berhenti abai.

Perayaan Misa Kenaikan Tuhan di Gereja Katedral Jakarta berlangsung dalam empat sesi ibadah berbeda, dengan ribuan umat memenuhi area dalam dan luar gereja. Romo Deo menjelaskan bahwa misa berlangsung tanpa tenda tambahan, sehingga kapasitas umat tetap terkendali dan ibadah berjalan tertib.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.