Laksana Fenomena “Kodok Rebus”, Warga Banua Diajak Bangkit dari Sikap Diam terhadap Berbagai Persoalan
Media Kampung – Berbagai persoalan yang mengemuka di Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir telah menjadi perhatian serius masyarakat. Laksana Fenomena “Kodok Rebus”, warga diajak bangkit dari sikap diam terhadap berbagai persoalan Banua yang meliputi isu etika dan moral pejabat, dugaan penyalahgunaan narkoba, korupsi, gaya hidup hedon, hingga kerusakan lingkungan. Hal ini menjadi fokus utama dalam diskusi publik bertajuk Ambin Demokrasi yang digelar di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, Sabtu (30/5/2026).
Persoalan Sosial dan Politik yang Menghimpit Banua
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten, antara lain mantan birokrat IBG Dharma Putra, akademisi FISIP ULM Dr. Nasrullah, serta konsultan politik Isra Ramli. Mereka bersama-sama menganalisis berbagai tantangan yang tengah dihadapi Kalimantan Selatan dari berbagai aspek kehidupan.
IBG Dharma Putra menyoroti adanya krisis marwah yang terjadi secara meluas. Menurutnya, integritas, wibawa, dan nama baik yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam kepemimpinan kini semakin memudar. Fenomena politik uang yang kian mengakar dianggap sebagai indikasi serius keruntuhan demokrasi. “Ketika politik uang menjadi sesuatu yang dianggap biasa, itu menunjukkan adanya persoalan serius dalam kehidupan demokrasi kita,” ujarnya, menekankan dampak buruknya terhadap kepercayaan masyarakat kepada institusi dan pemimpin.
Minimnya Kepekaan Masyarakat: Analogi Fenomena “Kodok Rebus”
Dr. Nasrullah menambahkan bahwa masyarakat Kalimantan Selatan mengalami penurunan sensitivitas terhadap berbagai persoalan publik. Ia mengibaratkan situasi ini seperti fenomena “kodok rebus”, di mana masyarakat secara perlahan terbiasa dengan kondisi yang memburuk sehingga kehilangan daya kritis. Berbagai isu serius yang semestinya menjadi perhatian justru dianggap biasa dan tidak direspons secara memadai.
Lebih jauh, Dr. Nasrullah juga mengkritisi minimnya suara kritis dari kalangan intelektual dan akademisi dalam menanggapi isu-isu tersebut. Ia mengingatkan pentingnya mempertahankan kepekaan dan kewaspadaan agar tidak terperangkap dalam sikap pasif yang berbahaya bagi masa depan Banua.
Tantangan Besar dari Aspek Lingkungan dan Budaya
Isra Ramli, konsultan politik yang berpengalaman, mengungkapkan tiga tantangan utama yang dihadapi daerah ini, yaitu eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, praktik bisnis yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan, serta tekanan terhadap identitas budaya lokal. Ia menilai lemahnya tata kelola dan kepemimpinan membuka peluang bagi eksploitasi yang berujung pada ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan.
Menurut Isra, budaya pragmatisme dan materialisme juga semakin menguat di tengah masyarakat, yang berpotensi mengikis nilai-nilai lokal dan solidaritas sosial. “Daerah yang kaya sumber daya semestinya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Namun jika pengelolaan tidak dilakukan dengan baik, yang muncul justru ketimpangan dan kerusakan,” jelasnya.
Peran Masyarakat dan Harapan Perubahan
Dalam sesi diskusi yang dimoderatori Noorhalis Majid, sejumlah peserta menyampaikan pandangan bahwa derasnya arus informasi dan perubahan zaman belum diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi secara kritis. Hal ini menyebabkan pemahaman yang dangkal dan memunculkan persoalan baru dalam kehidupan sosial dan demokrasi.
Meski demikian, semua sepakat bahwa harapan untuk perubahan selalu ada. Salah satu jalan penting yang disepakati adalah memperbanyak ruang diskusi, pendidikan publik, serta penguatan masyarakat sipil agar kesadaran kritis terus terjaga dan tumbuh.
Laksana Fenomena “Kodok Rebus”, warga Banua diajak untuk tidak lagi bersikap diam dan pasif menerima berbagai persoalan yang ada. Sebaliknya, masyarakat diharapkan dapat menjaga daya kritis, memperkuat solidaritas, dan aktif terlibat dalam mengawal arah pembangunan serta demokrasi di Kalimantan Selatan. “Harapan selalu ada selama masyarakat masih mau berpikir, berdiskusi, dan bertindak untuk memperbaiki keadaan,” demikian pesan yang mengakhiri forum Ambin Demokrasi.
Dengan semangat kebersamaan dan kesadaran kolektif, diharapkan Kalimantan Selatan mampu keluar dari berbagai tantangan sosial-politik yang tengah dihadapi, dan membangun masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan