Media Kampung – Data sains membuktikan sawit itu hemat air, namun fakta itu tidak menjelaskan mengapa desa-desa di pinggir kebun makin sering banjir dan makin cepat kekeringan. Di media sosial, sawit diadili habis-habisan dituduh menguras sungai, mengeringkan sumur, dan membunuh musim hujan. Sementara itu, industri sawit berargumen bahwa tanamannya justru lebih irit air dibanding tanaman lain.
Sebelum menghakimi, penting untuk memahami asal muasal istilah ‘rakus air’. Ternyata tidak ada definisi resmi untuk itu. Konsep ilmiah yang kerap disalahpahami adalah evapotranspirasi (ET) dan kemampuan tanah menyimpan air. Evapotranspirasi mengukur seberapa cepat tanaman menyedot air dari tanah lalu melepaskannya ke udara. Kemampuan tanah menyimpan air sangat dipengaruhi jenis tanah; tanah berpasir menyimpan air lebih sedikit dibanding tanah liat yang kaya humus.
Penelitian menggunakan teknik sap-flux dan pengukuran neraca air di Sumatra dan Kalimantan menunjukkan bahwa evapotranspirasi tahunan kebun sawit berkisar antara 1.050 hingga 1.400 mm per tahun. Angka itu setara dengan hutan hujan tropis yang digantikannya, lebih rendah dari hutan tanaman akasia atau bambu (2.400-3.000 mm per tahun), dan tidak lebih tinggi dari padi sawah (1.200-2.500 mm per tahun), tebu, maupun pisang. FAO dan kajian jejak air global bahkan mencatat bahwa sawit adalah salah satu tanaman penghasil minyak paling efisien di dunia, dengan kebutuhan air per liter minyak yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibanding rapeseed, bunga matahari, atau kedelai.
Dengan demikian, rakus bukan semata sifat pohon, melainkan produk dari keseluruhan sistem tanaman, tanah, dan iklim. Persoalan banjir dan kekeringan di sekitar kebun sawit kemungkinan besar terkait dengan pengelolaan tanah dan air, bukan semata-mata karena kebutuhan air tanaman sawit itu sendiri.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan