Media Kampung – Operasi pembersihan Sungai Cibanten yang sempat tertutup gunungan sampah berhasil mengangkut sekitar 15 ton limbah rumah tangga. Pembersihan dilakukan selama dua hari oleh tim gabungan yang terdiri dari pemerintah, relawan, komunitas peduli lingkungan, dan anggota Pramuka.

Penumpukan sampah terjadi di wilayah Kelurahan Unyur, Kota Serang, di mana plastik kemasan, styrofoam, ranting pohon, dan potongan bambu membentuk pulau-pulau sampah yang menghambat aliran air. Material tersebut terbawa arus dari hulu dan tersangkut pada pohon tumbang.

Ketua Komunitas Peduli Sungai Banten, Lulu Jamaludin, mengatakan medan yang sulit menjadi tantangan terbesar. Pada hari pertama, Jumat (5/6/2026), relawan dan petugas harus mengurai tumpukan sampah secara manual karena lokasi penumpukan tidak dapat dijangkau alat berat. Hari berikutnya, jumlah personel ditambah untuk menyisir titik-titik penumpukan di empat lokasi: Pipa Gas Unyur, Jembatan Kidemang, Kampung Kelanggaran, dan Kampung Angsana.

Dari titik-titik tersebut, sampah dimuat ke dump truck dan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong. Sebanyak lima rit truk dikerahkan, masing-masing membawa sekitar tiga ton sampah. Meski sebagian besar tumpukan telah dibersihkan, masih ada satu titik kritis di Kampung Pamindangan, Kelurahan Unyur, yang menjadi tantangan. Di lokasi tersebut, sampah menutupi aliran sungai sepanjang 50 meter, lebar tujuh meter, dan ketebalan 70 sentimeter. Posisi tumpukan yang sulit dijangkau membuat evakuasi harus dilakukan bertahap.

Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan, menegaskan bahwa kegiatan pembersihan ini menjadi pengingat bahwa sungai masih kerap diperlakukan sebagai tempat pembuangan limbah. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai karena dampaknya bukan hanya terhadap kesehatan lingkungan, tetapi juga dapat menyebabkan banjir. Fenomena ini kembali memperlihatkan persoalan klasik pengelolaan sampah di Banten. Hampir seluruh material yang diangkat merupakan sampah rumah tangga yang seharusnya tidak berakhir di badan sungai.

Meski 15 ton sampah berhasil disingkirkan, tumpukan limbah yang masih tersisa menunjukkan bahwa persoalan sungai tidak selesai hanya dengan operasi bersih-bersih. Tanpa perubahan perilaku masyarakat, gunungan sampah serupa bisa kembali muncul pada musim hujan berikutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.