Penurunan Harga Minyak Dunia
Media Kampung – Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan lebih dari USD 2 per barel pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Penurunan ini terjadi setelah beberapa sesi kenaikan harga yang mendorong investor melakukan aksi ambil untung.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun sebesar USD 2,22 atau 2,35 persen menjadi USD 92,17 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun USD 2,05 atau 2,35 persen ke level USD 85,01 per barel.
Latar Belakang Penurunan
Penurunan harga minyak ini terjadi meskipun Amerika Serikat memperluas sanksi terhadap Iran, yang merupakan bagian dari upaya Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah konflik yang sudah berlangsung hampir enam bulan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi sekunder yang dapat dikenakan kepada perusahaan dan negara yang masih melakukan hubungan bisnis dengan Iran. Kebijakan ini mengikuti ancaman Presiden Donald Trump mengenai perang ekonomi dan isolasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran.
Respon Pasar dan Analisis
Menurut Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymond James, tidak banyak hal baru dari pengumuman sanksi tersebut sehingga kenaikan harga minyak yang terjadi sebelumnya memicu investor untuk merealisasikan keuntungan. Brent dan WTI sempat mencatat kenaikan mingguan selama dua pekan berturut-turut, dengan lonjakan lebih dari 5 persen pada pekan sebelumnya.
Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, menilai dampak sanksi bergantung pada bagaimana ketat Washington menerapkan sanksi sekunder kepada mitra dagang Iran. Ia menyatakan kecuali China secara signifikan mengurangi pembelian minyak Iran, dampak terhadap pendapatan minyak Iran kemungkinan terbatas.
Kondisi di Kawasan Selat Hormuz
Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih menghadapi gangguan akibat blokade yang melibatkan Iran dan AS. Selat ini merupakan jalur strategis bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Data pengiriman menunjukkan kurang dari 20 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan terakhir. Meski begitu, CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne menyatakan perusahaannya masih dapat mengirimkan minyak secara menguntungkan melalui jalur ini, dengan biaya tambahan tertutup oleh diskon minyak mentah.
Selain itu, perusahaan minyak milik Irak dan Qatar juga menawarkan minyak untuk dimuat melalui wilayah selat dengan mekanisme tender.
Potensi Perubahan Kondisi dan Proyeksi Harga
Analis SEB Bjarne Schieldrop menyatakan harga Brent yang bertahan di sekitar USD 93 per barel menandakan masih cukup banyak minyak mengalir melalui Selat Hormuz. Namun, situasi bisa berubah jika Iran mengambil langkah menutup Selat Hormuz dengan menggunakan roket dan drone.
Di tengah ketidakpastian geopolitik ini, Morgan Stanley menaikkan proyeksi harga minyak Brent yang berpotensi mencapai USD 100 per barel pada kuartal keempat 2026.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) belum membahas rencana pelepasan minyak tahap kedua dari cadangan strategis, menurut Direktur Eksekutif Fatih Birol.
Reaksi Iran dan Upaya Diplomasi
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam rencana penerapan sanksi baru tersebut dan menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik. Pada hari yang sama dengan pengumuman sanksi, Kepala Angkatan Darat Pakistan melakukan kunjungan ke Teheran untuk pembicaraan mediasi, menunjukkan adanya upaya diplomasi di tengah ketegangan.












Tinggalkan Balasan