Media Kampung, Kalimantan dan Panama – Fenomena El Nino yang kuat dan musim kemarau yang berkepanjangan memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan air di berbagai wilayah, mulai dari Kalimantan hingga Terusan Panama.
Di Kalimantan Timur, volume air di Bendungan Sepaku Semoi mengalami penurunan drastis sebanyak 3 juta meter kubik akibat pengaruh El Nino. Kondisi serupa juga terlihat pada Sungai Mahakam yang tinggi muka airnya turun sampai di bawah kondisi normal. Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, menjelaskan bahwa pemantauan di 38 pos pantau sepanjang Sungai Mahakam menunjukkan penurunan tinggi muka air hingga minus 60 sentimeter dari titik nol pengukuran pada pertengahan Agustus 2026. Titik nol ini sendiri telah ditetapkan di atas dasar sungai berdasarkan kondisi surut terendah.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, debit air Sungai Barito di Desa Kalahien, Barito Selatan, juga mengalami penyusutan seiring minimnya curah hujan dan tingginya hari tanpa hujan (HTH). BMKG Stasiun Meteorologi Palangka Raya mencatat wilayah Barito Selatan memasuki kategori HTH panjang hingga sangat panjang selama 21 hingga 60 hari, yang berdampak langsung pada berkurangnya air permukaan dan debit sungai. BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah akan berlangsung pada Agustus hingga September 2026, dengan curah hujan yang masih di bawah normal sehingga berpotensi memperparah kondisi kekeringan.
Selain itu, fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah juga menyebabkan perubahan warna matahari menjadi merah pekat. Partikel aerosol dari asap ini menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti warna biru, sehingga cahaya matahari yang sampai ke permukaan bumi lebih didominasi warna merah dan tampak lebih redup. Fenomena ini dijelaskan secara ilmiah sebagai akibat hamburan cahaya di atmosfer yang dipengaruhi oleh partikel asap.
Di luar Indonesia, Terusan Panama mengalami keterbatasan operasional akibat kekeringan yang dipicu oleh curah hujan rendah dan potensi El Nino parah. Otoritas Terusan Panama mengumumkan pengurangan jumlah kapal yang diizinkan melintas setiap hari secara bertahap mulai September 2026, dari 36 kapal menjadi 34 kapal, kemudian menjadi 32 kapal. Hal ini dilakukan untuk menghemat pasokan air tawar yang sangat dibutuhkan untuk mengoperasikan sistem pintu air di terusan tersebut. Curah hujan di wilayah tangkapan air terusan selama Mei hingga Agustus tercatat 34 persen di bawah rata-rata historis, sementara aliran air masuk menurun hingga 44 persen. Langkah pengurangan kapasitas ini bertujuan menjaga keberlanjutan operasional terusan dan pasokan air untuk kebutuhan manusia.
Meski sebagian besar wilayah Indonesia tengah memasuki musim kemarau dan curah hujan rendah akibat El Nino dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), BMKG masih memperkirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan terjadi di beberapa wilayah pada periode 22 hingga 27 Agustus 2026. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi cuaca kering tidak sepenuhnya menutup kemungkinan terjadinya hujan lokal.
Fenomena El Nino dan musim kemarau yang berkepanjangan membawa berbagai dampak nyata, mulai dari penurunan volume air bendungan dan debit sungai, risiko kekeringan, perubahan warna matahari akibat kabut asap, hingga pembatasan operasi jalur pelayaran internasional seperti Terusan Panama. Kondisi ini mengingatkan pentingnya pemantauan dan mitigasi yang tepat untuk mengelola sumber daya air dan menjaga keberlanjutan aktivitas sosial-ekonomi di tengah perubahan iklim global.















Tinggalkan Balasan