Media Kampung – Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam proses pengadaan impor minyak mentah sejak terjadinya perang antara Amerika Serikat dan Iran serta blokade Selat Hormuz. Menurut Laode, Indonesia telah kehilangan sekitar 25 persen sumber impor minyak mentah akibat konflik tersebut.
“Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25 persen sumber impor. Yang dilakukan sekarang adalah kita melakukan hunting,” kata Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah.
Proses pengadaan minyak kini tidak lagi dilakukan melalui lelang atau tender, melainkan PT Pertamina (Persero) diharuskan untuk mencari negara-negara yang memiliki kelebihan pasokan minyak mentah dan membelinya secara langsung. Hal ini menyebabkan harga minyak menjadi lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan biasa.
Laode menjelaskan, “Jika sebelumnya Pertamina melakukan lelang, sekarang peserta lelang relatif tidak ada. Kita harus mencari negara-negara yang punya kelebihan stok, kita beli dengan harga yang berpotensi lebih tinggi daripada harga pengadaan biasa.” Meskipun pengadaan menjadi lebih mahal, dia menjamin bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun ini, sedangkan harga BBM nonsubsidi masih kompetitif dibandingkan dengan negara tetangga.
Laode juga memastikan bahwa pasokan BBM tetap aman dengan ketahanan 18-20 hari. Namun, ia menegaskan bahwa antrean di SPBU disebabkan oleh kendala distribusi akibat fenomena El Nino yang mengakibatkan pengeringan sungai, yang menjadi jalur logistik di beberapa daerah. “Antrean lebih disebabkan bukan karena ketahanan stok, tapi karena kondisi El Nino, yang menyebabkan proses pengiriman dan distribusi terhambat,” jelas Laode.














