Media Kampung – Sejumlah perusahaan kecerdasan buatan (AI) dilaporkan secara anonim membeli dan menghancurkan jutaan buku cetak melalui layanan perantara. Langkah ini dilakukan untuk menghindari sorotan publik negatif terkait praktik pengumpulan data fisik untuk pelatihan model AI mereka.

Fakta Utama di Balik Praktik Pembelian dan Penghancuran Buku

Dalam perlombaan pengembangan model AI, kebutuhan akan data pelatihan yang berkualitas semakin meningkat. Buku fisik yang ditulis oleh manusia sebelum maraknya teks yang dihasilkan AI menjadi sumber data yang sangat bernilai karena keasliannya. Namun, proses pengambilan data ini tidak hanya melibatkan pemindaian buku, tetapi juga penghancuran buku tersebut setelah digunakan.

Baca juga:

Pengadilan pada tahun 2025 mengungkap bahwa perusahaan AI Anthropic telah mengiris, membuka jilid, memindai, dan kemudian membuang jutaan buku cetak selama pelatihan model Claude mereka. Meskipun pengadilan menyatakan tindakan ini termasuk dalam penggunaan wajar berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta AS, perusahaan sadar bahwa praktik ini dapat menimbulkan kontroversi publik.

Layanan Perantara sebagai Strategi Anonimitas

Untuk menghindari dampak negatif tersebut, Anthropic dan perusahaan AI lain menggunakan jasa perusahaan perantara seperti ISBNdb. Perusahaan ini menyediakan layanan pembelian buku cetak secara besar-besaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pelatihan model bahasa besar (LLM). ISBNdb bahkan menawarkan jaminan kerahasiaan identitas klien melalui perjanjian nondisclosure (NDA) ketat, memastikan strategi dan target pembelian tidak diketahui publik.

Layanan ini memungkinkan pembelian hingga satu juta buku dalam satu pesanan, dengan buku yang didapat berasal dari berbagai sumber seperti perpustakaan, toko buku bekas, dan katalog buku yang sudah tidak dicetak lagi. Meski layanan ini kini telah dihentikan oleh ISBNdb, permintaan terhadap buku-buku langka untuk pelatihan AI terus meningkat di kalangan pedagang buku.

Baca juga:

Dampak pada Industri Buku dan Etika Penggunaan

Buku-buku yang dibeli secara masif ini kemudian dihancurkan setelah proses digitalisasi selesai, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang dan pencinta buku. Seorang pedagang buku mengungkapkan bahwa meskipun ada manfaat finansial dari lonjakan penjualan, ada perasaan tidak nyaman terkait tujuan akhir dari buku-buku tersebut yang berujung pada penghancuran.

Fenomena serupa juga terjadi di Belanda, di mana penjual buku langka melaporkan peningkatan permintaan yang signifikan sejak awal tahun 2026. Hal ini menunjukkan tren global dalam pengadaan buku untuk pelatihan AI, yang menimbulkan pertanyaan etis dan budaya tentang pelestarian karya tulis dan hak cipta.

Konteks dan Implikasi Lebih Lanjut

Industri AI menghadapi tantangan besar dalam hal tanggung jawab sosial dan lingkungan, mulai dari konsumsi listrik yang tinggi hingga dampak polusi dan ketakutan akan penggantian tenaga kerja manusia. Praktik pengumpulan data melalui pembelian dan penghancuran buku ini menjadi bagian dari kontroversi yang lebih luas mengenai transparansi dan etika dalam pengembangan teknologi AI.

Baca juga:

Penggunaan buku fisik sebagai sumber data pelatihan memang memberikan keunggulan kompetitif, tetapi juga mengangkat isu penting terkait pelestarian literatur dan penghormatan terhadap karya intelektual manusia. Diskusi tentang regulasi dan praktik berkelanjutan dalam pengumpulan data AI masih terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.