Media Kampung – Aksi beli bersih investor asing terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus berlanjut. Pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026, asing mencatatkan net buy Rp116,7 miliar, mendorong harga saham BBRI naik 2,6 persen ke level Rp3.050 per lembar. Kenaikan ini memperpanjang tren positif dalam sebulan terakhir yang mencapai 4,1 persen, meskipun secara year-to-date masih terkoreksi 16,6 persen.

Aksi Borong Asing Berlanjut

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan volume transaksi BBRI mencapai 249 juta lembar saham dengan frekuensi 40,7 ribu kali dan total nilai Rp758,9 miliar. Aksi akumulasi ini melanjutkan tren akhir pekan lalu di mana asing membukukan net buy Rp267,6 miliar pada Jumat, 17 Juli 2026. Secara keseluruhan, dalam sepekan terakhir asing tercatat net buy Rp725,11 miliar di seluruh pasar, dengan saham perbankan menjadi sasaran utama.

Baca juga:

Rekomendasi Analis dan Target Harga

CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan target harga terdekat BBRI di kisaran Rp3.030 hingga Rp3.090 per lembar, dengan support di level Rp2.910. Sementara itu, Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham BBRI. Beberapa sekuritas lain menetapkan target harga jangka panjang antara Rp3.768 hingga Rp4.422 per saham, mencerminkan potensi kenaikan signifikan dari level saat ini.

Baca juga:

Kinerja IHSG dan Sektor Perbankan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I ditutup menguat 0,86 persen ke level 6.228, didorong oleh sektor perbankan dan energi. Saham BBRI menjadi salah satu kontributor utama dengan nilai transaksi Rp1,19 triliun hingga penutupan perdagangan. Pergerakan ini sejalan dengan penguatan indeks Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite, meskipun Nikkei 225 Jepang terkoreksi. Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.960 per dolar AS, melemah 0,42 persen.

Baca juga:

Prospek BBRI ke Depan

Meskipun masih terkoreksi year-to-date, akumulasi asing yang konsisten mengindikasikan kepercayaan terhadap fundamental BBRI. Dukungan dari sejumlah analis dengan target harga di atas Rp4.000 memberikan optimisme bagi investor. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko pergerakan nilai tukar dan sentimen global yang dapat mempengaruhi pasar saham Indonesia.