Media Kampung – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kini berada di persimpangan penting menyusul rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menurunkan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Perubahan ini berpotensi mempengaruhi pergerakan harga saham GOTO yang selama ini terjebak pada batas bawah Rp50, sekaligus mendorong dinamika likuiditas dan price discovery di pasar modal Indonesia.

Perdagangan saham GOTO pada 26 Agustus 2026 tercatat stagnan di level Rp50 per lembar, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren kenaikan. Kapitalisasi pasar GOTO saat ini mencapai sekitar Rp57 triliun, menjadikannya salah satu saham big cap yang menarik perhatian investor. Namun, pencoretan saham GOTO dari indeks MSCI Global Standard dan FTSE Russell telah menimbulkan tekanan tersendiri, terutama dari investor pasif yang mengikuti indeks tersebut.

Baca juga:

BEI telah melakukan uji coba penurunan batas harga minimum saham pada 22 dan 29 Agustus 2026 dan menargetkan implementasi resmi mulai 7 September 2026. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan meningkatkan likuiditas pasar dan memperbaiki mekanisme pembentukan harga sehingga saham yang selama ini terkunci di harga Rp50 dapat bergerak sesuai mekanisme pasar.

Meski perubahan batas harga ini membuka ruang bagi saham GOTO untuk diperdagangkan di bawah Rp50, analis mengingatkan agar investor tetap waspada. Risiko penurunan harga muncul dari potensi tekanan jual yang meningkat seiring hilangnya batas psikologis tersebut. Analis dari CGS International Sekuritas Indonesia, Joanne Ong, mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp56 per saham, berdasarkan valuasi fundamental dan potensi pertumbuhan bisnis fintech GOTO yang kuat.

Sementara itu, analis lain memperingatkan kemungkinan terjadinya panic selling terutama oleh investor ritel yang selama ini menahan saham GOTO di level Rp50. Perubahan batas harga bisa menjadi pemicu arus keluar dana pasif setelah saham ini dikeluarkan dari indeks MSCI dan FTSE, sehingga pergerakan harga GOTO sangat bergantung pada keseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar.

Baca juga:

Dari sisi fundamental, GOTO menunjukkan perbaikan kinerja dengan mencatat laba bersih Rp423 miliar pada semester pertama 2026, berbalik dari kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih juga tumbuh 28 persen menjadi Rp10,99 triliun, dengan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp1,92 triliun. Perusahaan mempertahankan target EBITDA antara Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun sepanjang tahun 2026.

Perubahan batas harga saham ini juga terkait dengan kebijakan pemerintah mengenai komisi platform sebesar 8% yang mulai diterapkan sejak Juli 2026 untuk layanan on-demand service roda dua. Regulasi ini diharapkan memberikan kepastian tarif bagi layanan transportasi, kurir, dan pesan-antar makanan, yang menjadi bagian penting dari bisnis GOTO.

Secara makro, IHSG menghadapi dinamika dari rebalancing indeks MSCI dan FTSE Russell yang menghapus dan menurunkan kelas puluhan saham Indonesia, termasuk GOTO. Meski tekanan ini dapat menimbulkan volatilitas, analis melihatnya sebagai bagian dari proses perbaikan pasar modal yang lebih sehat dan likuid.

Baca juga:

Investor disarankan untuk memantau perkembangan regulasi dan sentimen pasar global yang dapat mempengaruhi IHSG dan saham GOTO, terutama konflik geopolitik di Selat Hormuz yang berpotensi berdampak pada harga minyak dunia dan kebijakan suku bunga global.

Dengan adanya perubahan batas harga saham menjadi Rp1, ruang gerak saham GOTO akan lebih fleksibel, memungkinkan price discovery berjalan lebih efektif. Namun, investor harus tetap mempertimbangkan risiko volatilitas dan tekanan jual yang mungkin muncul dalam jangka pendek. Bagi investor yang percaya pada potensi pemulihan GOTO, penurunan harga di bawah Rp50 dapat menjadi peluang untuk strategi beli secara bertahap.