Media Kampung, Bukittinggi — Di balik kemegahan Jam Gadang, ikon Kota Bukittinggi yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda, terdapat sosok arsitek lokal asal Minangkabau, Yazid Rajo Mangkuto. Pria kelahiran Koto Gadang itu dipercaya merancang bangunan yang kini menjadi salah satu landmark paling terkenal di Sumatera Barat.
Kepercayaan yang diberikan kepada arsitek pribumi pada masa kolonial menjadi catatan penting dalam sejarah pembangunan Jam Gadang. Menara setinggi sekitar 27 meter tersebut memiliki empat sisi jam yang masing-masing berdiameter sekitar 80 sentimeter. Dengan pemahaman yang kuat terhadap arsitektur dan estetika lokal, Yazid Rajo Mangkuto mampu menghadirkan rancangan bangunan yang kokoh dan tetap berdiri hingga kini, meski Sumatera Barat dikenal sebagai wilayah yang rawan gempa bumi.

Latar Belakang Pendidikan
Latar belakang pendidikan Yazid belum diketahui secara pasti. Sejumlah sumber menyebutkan ia diduga memperoleh pengetahuan teknik bangunan dari pendidikan pada masa kolonial, sementara sebagian lainnya meyakini keahliannya berkembang melalui pengalaman membangun secara otodidak.

Perubahan Atap Jam Gadang
Rancangan awal Jam Gadang memperlihatkan perpaduan gaya arsitektur Eropa dengan sentuhan lokal. Seiring perjalanan sejarah, bangunan ini mengalami beberapa perubahan, terutama pada bagian atap. Pada masa Hindia Belanda, atapnya berbentuk kubah dengan ornamen ayam jantan. Saat pendudukan Jepang, bentuknya diubah menyerupai pagoda, sebelum akhirnya diganti menjadi atap bergonjong khas Rumah Gadang setelah Indonesia merdeka. Perubahan tersebut menjadikan Jam Gadang sebagai simbol perjalanan sejarah sekaligus identitas budaya Minangkabau.

Warisan bagi Masyarakat Minangkabau
Hingga kini, karya Yazid Rajo Mangkuto tetap menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat. Jam Gadang tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu dan destinasi wisata unggulan, tetapi juga menjadi simbol semangat, sejarah, dan jati diri masyarakat Minangkabau. Melalui sentuhan arsitek lokal, bangunan bersejarah ini berhasil memadukan nilai estetika, kekuatan konstruksi, dan kekayaan budaya yang terus diwariskan kepada generasi mendatang.




















Tinggalkan Balasan