Media Kampung – Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Islam Nusantara hancur dari dalam akibat konflik internal dan perebutan kekuasaan, bukan semata-mata karena kekuatan kolonial Eropa. Pelajaran ini menjadi pengingat bagi Indonesia saat ini untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah belah.
Kesultanan-kesultanan seperti Aceh, Demak, Banten, Mataram Islam, Ternate, dan Tidore pernah menjadi pusat perdagangan dan peradaban yang disegani. Namun, dalam waktu kurang dari dua ratus tahun, hampir semuanya jatuh ke tangan VOC dan Portugis. Faktor utama keruntuhan bukanlah superioritas militer asing, melainkan melemahnya kekuatan dari dalam.
Di Mataram, setelah Sultan Agung wafat, para penerusnya justru sibuk berebut takhta. Beberapa pangeran bahkan meminta bantuan VOC untuk mengalahkan saudaranya sendiri, dengan imbalan wilayah dan hak dagang. Pola serupa terjadi di Banten, di mana Sultan Haji berkhianat kepada ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan bersekutu dengan Belanda demi kekuasaan. Akibatnya, Banten pun jatuh ke tangan VOC.
Konflik internal ini dimanfaatkan VOC dengan sangat cerdik. Mereka datang sebagai mitra dagang, menawarkan bantuan militer saat terjadi perselisihan, lalu meminta imbalan berupa wilayah dan monopoli. Perlahan-lahan, mereka mengambil alih kendali penuh tanpa perlu pertempuran besar.
Kekayaan alam Nusantara yang melimpah, terutama rempah-rempah, justru menjadi kelemahan karena memicu persaingan antar kesultanan. Ternate dan Tidore, misalnya, sudah berseteru jauh sebelum Portugis datang. Persaingan itu dimanfaatkan Portugis untuk masuk sebagai sekutu dan akhirnya menguasai keduanya.
Dari reruntuhan kesultanan, ada tiga pelajaran utama yang relevan bagi Indonesia saat ini. Pertama, perpecahan internal adalah ancaman terbesar. Kedua, jangan mudah tergoda bantuan yang tampaknya gratis, karena selalu ada harga yang harus dibayar. Ketiga, kekayaan alam saja tidak cukup tanpa kemampuan mengelola dan mempertahankannya secara bersama.
Meskipun kesultanan-kesultanan Islam berhasil ditaklukkan secara politik dan ekonomi, identitas budaya dan keislaman masyarakat Nusantara tidak pernah padam. Bahasa Melayu tetap hidup dan menjadi bahasa Indonesia. Semangat perlawanan terhadap penjajah terus menyala hingga melahirkan Proklamasi 1945. Artinya, kolonialisme gagal merampas jiwa dan identitas rakyat.
Kesultanan Aceh bertahan paling lama melawan Belanda karena rakyat dan pemimpinnya bersatu dalam satu tekad. Ini membuktikan bahwa persatuan adalah senjata yang jauh lebih kuat dari meriam sekalipun. Sejarah runtuhnya Kesultanan Islam Nusantara hancur dari dalam mengajarkan bahwa bersatu bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Ambisi pribadi tidak boleh mengorbankan kepentingan bersama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan