Media Kampung, Batam – Tekanan ekonomi global mendorong perubahan signifikan dalam pola pengeluaran rumah tangga. Hasil survei The Allianz 3am Report 2026 mengungkapkan hanya 5 persen responden yang merasa kondisi keuangannya benar-benar aman sehingga mampu menabung dan berinvestasi dalam jumlah besar. Sebagian besar responden hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara hampir sepertiga mengalami kesulitan mencukupi kebutuhan pokok.
Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi, sebanyak 34 persen responden memilih mengurangi pengeluaran non-esensial. Sementara itu, 22 persen responden lebih memprioritaskan tabungan untuk kebutuhan penting di masa mendatang. Survei tersebut juga mencatat bahwa pengeluaran rumah tangga terbesar masih didominasi oleh kebutuhan makanan, yang mencapai 77 persen. Disusul biaya perumahan sebesar 49 persen, transportasi 35 persen, dan premi asuransi 34 persen.
Meski demikian, hampir sepertiga responden mengaku belum mampu menabung secara rutin. Hal ini membuat pengeluaran tak terduga berpotensi mengganggu stabilitas keuangan mereka. Di Indonesia, situasinya sedikit lebih baik. Sebanyak 56 persen responden menyatakan mampu menyisihkan sedikitnya 10 persen dari pendapatan untuk ditabung. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara di Eropa dan Inggris, yang rata-rata hanya mencapai sekitar 34 persen responden.
Survei The Allianz 3am Report 2026 dilakukan secara global dan melibatkan ribuan responden dari berbagai negara. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan ekonomi telah mengubah prioritas belanja rumah tangga secara fundamental, dengan fokus utama pada kebutuhan dasar dan upaya menabung untuk masa depan.























Tinggalkan Balasan