Media Kampung – 15 April 2026 | Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menegaskan bahwa sanad keilmuan merupakan fondasi utama yang menguatkan tradisi pesantren di era modern.

Ia menuturkan bahwa rantai ilmu Islam harus tetap terhubung secara berkesinambungan hingga kepada Nabi Muhammad saw, sehingga generasi santri dapat mewarisi otoritas keagamaan yang sahih.

Pernyataan tersebut disampaikan pada pertemuan tahunan PWNU Jatim yang dilaksanakan di Surabaya pada 10 April 2024, dihadiri oleh para ulama, tokoh pesantren, serta aktivis muda.

Acara tersebut bertujuan mengkaji tantangan pendidikan Islam di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang semakin kompleks.

Ia menambahkan, “Sanad yang kuat menegaskan legitimasi ilmu, sekaligus melindungi pesantren dari pengaruh ideologi yang menyimpang”.

Sanad keilmuan menjadi jaminan keabsahan materi yang diajarkan, sehingga pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang kredibel dan terpercaya.

Data yang dirilis PWNU Jatim menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen pesantren di wilayah tersebut masih mengacu pada sanad tradisional dalam kurikulum mereka.

Angka ini mencerminkan komitmen kuat para pimpinan pesantren untuk menjaga keaslian ajaran sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, PWNU Jatim juga menginisiasi program pelatihan guru untuk memperdalam pemahaman sanad, guna meningkatkan kualitas pengajaran.

Program tersebut melibatkan ulama senior yang memiliki sanad panjang, serta pakar metodologi pendidikan Islam.

Para peserta pelatihan diharapkan mampu menelusuri kembali jejak para guru terdahulu, sehingga mereka dapat mengajarkan ilmu dengan otoritas yang sah.

Dalam konteks global, tradisi pesantren dihadapkan pada tantangan modernisasi dan digitalisasi pendidikan.

Wakil Ketua menegaskan bahwa sanad keilmuan dapat menjadi jembatan antara nilai tradisional dan inovasi teknologi.

Ia mengusulkan integrasi platform daring untuk dokumentasi sanad, sehingga jejak ilmu dapat diakses secara transparan oleh semua kalangan.

Inisiatif ini diharapkan memperkuat akuntabilitas lembaga pesantren, sekaligus mempermudah verifikasi keabsahan guru.

Beberapa pesantren terpilih di Surabaya, Malang, dan Jember telah mulai mengimplementasikan sistem digital tersebut sejak awal tahun ini.

Hasil evaluasi awal menunjukkan peningkatan kepuasan santri dan orang tua terhadap transparansi proses belajar mengajar.

Selain aspek teknis, PWNU Jatim juga menekankan pentingnya nilai-nilai moral yang terkandung dalam sanad keilmuan.

Nilai-nilai tersebut meliputi kejujuran, kesederhanaan, serta rasa hormat terhadap tradisi keagamaan.

Dengan menanamkan nilai tersebut, pesantren dapat menghasilkan generasi yang berintegritas dan berdaya saing.

Penguatan sanad keilmuan juga berperan dalam memperkuat persatuan umat Islam di Jawa Timur.

Sanad yang diakui secara luas dapat menjadi dasar dialog lintas pesantren, mengurangi potensi konflik sektarian.

Kondisi terkini menunjukkan bahwa PWNU Jatim sedang menyusun pedoman standar sanad keilmuan yang akan diadopsi oleh seluruh jaringan pesantren di provinsi ini.

Pedoman tersebut diharapkan selesai pada akhir 2024 dan akan menjadi acuan resmi dalam penilaian kualitas guru.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua juga mengapresiasi peran tokoh santri yang aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Ia menyoroti kontribusi pesantren dalam penanganan bencana alam, distribusi bantuan, serta program literasi keagamaan.

Dengan mengedepankan sanad keilmuan, pesantren dapat meningkatkan efektivitas program-program tersebut.

Para ahli menilai bahwa pendekatan berbasis sanad dapat meningkatkan kredibilitas pesantren di mata publik dan pemerintah.

Hal ini penting mengingat semakin banyaknya kebijakan pemerintah yang menuntut akreditasi lembaga pendidikan agama.

PWNU Jatim berkomitmen untuk mendukung proses akreditasi dengan menyertakan bukti sanad yang terverifikasi.

Sejalan dengan itu, pemerintah daerah Jawa Timur telah menawarkan insentif bagi pesantren yang memenuhi standar sanad keilmuan.

Insentif tersebut meliputi bantuan fasilitas, pelatihan guru, dan akses pendanaan untuk pengembangan kurikulum.

Penutupnya, Wakil Ketua menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi pesantren bergantung pada kekuatan sanad keilmuan yang tidak boleh terputus.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi menjaga dan memperkuat rantai ilmu demi masa depan Islam yang lebih kokoh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.