Media KampungDelegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren Ash‑Shiddiqiyah, Jakarta, menandai kunjungan budaya yang menekankan pemahaman terhadap tradisi pendidikan Islam di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan 17 pejabat dan akademisi Belanda yang mengikuti program intensif selama tiga hari.

Kunjungan dilaksanakan pada 18–20 April 2026, dengan delegasi yang dipimpin oleh Dr. Johan van der Meer, pakar studi Asia Barat. Mereka tiba di Jakarta dan langsung diarahkan ke pesantren yang terletak di kawasan Ciputat, Banten, untuk memulai serangkaian observasi lapangan.

Pesantren Ash‑Shiddiqiyah didirikan pada tahun 1995 dan kini menampung lebih dari 1.200 santri dari seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu lembaga pendidikan Islam modern yang menggabungkan kurikulum agama dan umum. Selama kunjungan, delegasi disambut oleh Kepala Pondok, KH. Abdul Rahman, yang menjelaskan visi pesantren dalam membentuk generasi berakhlak mulia.

Para delegasi diajak menyaksikan aktivitas harian santri, mulai dari shalat subuh berjamaah, belajar Al‑Qur’an, hingga pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Setiap sesi diakhiri dengan diskusi terbuka yang memungkinkan pertukaran pandangan antara santri dan tamu internasional.

Selain mengamati rutinitas, delegasi berpartisipasi dalam kelas nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan toleransi yang diajarkan oleh para ustadz. Pengalaman ini dirancang untuk memberi wawasan langsung tentang cara hidup santri yang mengedepankan disiplin spiritual dan akademik.

“Kami merasa terhormat dapat memperkenalkan budaya pesantren kepada sahabat-sahabat dari Belanda,” ujar KH. Abdul Rahman dalam sebuah pernyataan resmi. “Harapannya, kunjungan ini membuka peluang kerjasama edukasi lintas negara yang lebih luas.”

Seorang anggota delegasi, Dr. van der Meer, menambahkan, “Pengalaman langsung di pesantren memberikan kami perspektif yang tidak dapat didapatkan dari literatur semata, khususnya dalam memahami peran santri sebagai agen perubahan sosial di Indonesia.”

Kunjungan ini menjadi bagian dari program pertukaran budaya yang didanai bersama antara Kementerian Agama Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Program serupa telah dilaksanakan sejak 2018, mencakup kunjungan ke museum, universitas, dan komunitas adat.

Hubungan bilateral Indonesia‑Belanda selama beberapa dekade terakhir menunjukkan peningkatan kerja sama di bidang pendidikan, teknologi, dan budaya. Kunjungan delegasi ini memperkuat komitmen kedua negara untuk memperdalam dialog antar‑budaya melalui pengalaman lapangan yang autentik.

Kementerian Agama menegaskan dukungan penuh terhadap inisiatif pertukaran ini, dengan menyiapkan paket materi pembelajaran dan laporan evaluasi bagi pihak Belanda. Pihak kementerian juga mengundang akademisi Indonesia untuk berpartisipasi dalam diskusi lanjutan.

Rencana ke depan mencakup penyusunan program studi banding jangka panjang antara Pesantren Ash‑Shiddiqiyah dan institusi pendidikan tinggi di Belanda, dengan fokus pada metodologi pengajaran nilai moral dan karakter. Kedua belah pihak berharap kolaborasi ini dapat memperkaya kurikulum masing-masing.

Setelah tiga hari intensif, delegasi Belanda kembali ke Amsterdam dengan laporan lengkap dan rekomendasi untuk program pertukaran selanjutnya. Dialog yang terjalin terus berlanjut melalui webinar dan kunjungan virtual, menandai langkah berkelanjutan dalam memperkuat pemahaman lintas budaya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.