Dino Patti Djalal Beri 5 Saran ke Prabowo yang Dinilai Terlalu Sering ke Luar Negeri
<pDalam konteks diplomasi dan hubungan internasional, mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus diplomat senior, Dino Patti Djalal, baru-baru ini menyampaikan lima saran penting kepada Presiden Prabowo Subianto. Hal ini terkait dengan penilaian atas frekuensi tinggi kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden sejak menjabat sebagai kepala negara. Melalui sebuah video yang diunggah di media sosial, Dino mengingatkan bahwa intensitas kunjungan ke luar negeri perlu dievaluasi agar diplomasi Indonesia tetap efektif dan tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah kondisi ekonomi dan situasi global yang penuh tantangan.
Media Kampung –
Frekuensi Kunjungan yang Tinggi dan Dampaknya
Dino Patti Djalal Beri 5 Saran ke Prabowo yang Dinilai Terlalu Sering ke Luar Negeri dengan alasan bahwa sejak menjabat, Presiden Prabowo telah menghabiskan waktu satu dari enam hari untuk berada di luar negeri. Hal ini menjadikan beliau sebagai salah satu kepala negara dengan frekuensi perjalanan internasional yang sangat tinggi. Selain itu, setiap kunjungan tersebut memerlukan biaya yang sangat besar, meliputi tim pendahulu, pengamanan, pesawat, hotel, logistik, serta kebutuhan protokoler lainnya. Dino memperkirakan biaya satu perjalanan bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
Lima Saran Strategis dari Dino Patti Djalal
- Perbanyak Penggunaan Teknologi Komunikasi
Dino menyarankan agar Presiden Prabowo lebih memanfaatkan teknologi seperti Zoom dan sambungan telepon dalam berkomunikasi dengan pemimpin dunia. Hal ini dapat menghemat biaya perjalanan karena substansi pembicaraan bilateral biasanya hanya berlangsung singkat dan banyak agenda lain bersifat seremonial. Dengan video call yang hampir tanpa biaya, negara dapat menghemat ratusan miliar rupiah tanpa mengurangi efektivitas diplomasi. - Maksimalkan Pertemuan Bilateral saat Forum Internasional
Dino mengusulkan konsep “1 plus 8”, di mana setiap kali menghadiri forum dunia, Presiden Prabowo dapat mengadakan minimal delapan pertemuan bilateral dengan kepala negara lain yang hadir. Dengan cara ini, setiap kunjungan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membangun hubungan diplomatik yang lebih luas. - Agenda Kunjungan Harus Transparan dan Terencana
Menurut Dino, banyak kunjungan Presiden yang dilakukan secara mendadak tanpa penjelasan kepada publik, seperti kunjungan ke Pakistan dan Rusia saat bencana banjir di Sumatera. Oleh karena itu, ia mengimbau agar Sekretariat Presiden dan Kementerian Luar Negeri mengumumkan agenda perjalanan minimal satu minggu hingga satu bulan sebelum keberangkatan untuk menjaga transparansi dan kepercayaan masyarakat. - Lebih Banyak Menerima Tamu Negara di Indonesia
Dino menyarankan agar Presiden Prabowo mengurangi perjalanan ke luar negeri dan lebih sering menerima kunjungan kepala negara asing di Indonesia. Langkah ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga menunjukkan posisi Indonesia sebagai negara tujuan diplomasi yang strategis, sebagaimana praktik Presiden China Xi Jinping yang lebih sering menerima tamu di Beijing. - Delegasikan Misi Diplomatik kepada Menteri Luar Negeri
Dino juga menyarankan agar misi diplomatik yang bersifat teknis dan taktis lebih banyak didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono. Pendekatan ini lebih efisien karena melibatkan rombongan yang lebih kecil namun tetap dapat mencapai tujuan diplomatik dengan efektif dan hemat anggaran.
Refleksi dan Harapan
Dino Patti Djalal Beri 5 Saran ke Prabowo yang Dinilai Terlalu Sering ke Luar Negeri sebagai bentuk kritik konstruktif untuk meningkatkan efektivitas diplomasi Indonesia di tengah situasi ekonomi yang menuntut efisiensi anggaran. Dalam suasana global yang penuh ketidakpastian, masyarakat Indonesia mengharapkan diplomasi yang tidak hanya megah secara protokoler, tetapi juga efektif dan hemat biaya. Saran-saran tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi yang bermanfaat bagi pemerintahan Presiden Prabowo untuk menyeimbangkan antara kebutuhan diplomasi dan pengelolaan sumber daya negara.
Dengan menerapkan lima saran tersebut, diharapkan kunjungan luar negeri Presiden dapat lebih terukur dan berdampak besar, sekaligus meningkatkan transparansi kepada publik dan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional tanpa harus mengorbankan anggaran negara secara berlebihan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan