Media Kampung – Janji ‘siap kerja dalam tiga bulan’ dari berbagai bootcamp di media sosial memang menggiurkan. Di tengah persaingan kerja yang ketat, tawaran menguasai coding, menjadi data scientist tanpa gelar, atau meraih gaji dua digit setelah lulus bootcamp seolah menjadi solusi instan. Namun, di balik kurikulum yang detail dan testimoni alumni sukses, ada pertanyaan mendasar: apa yang diam-diam dikorbankan ketika bootcamp dijadikan standar pendidikan baru?

Filosof Martha Nussbaum dalam esainya ‘Education for Profit, Education for Freedom’ (2009) memperingatkan bahaya model pendidikan yang hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Model ini hanya peduli pada keterampilan yang sesuai permintaan pasar dan mengabaikan hal-hal yang tidak bisa diukur dengan gaji atau produktivitas. Bootcamp, menurut Nussbaum, adalah wajah paling jujur dari model tersebut.

Bootcamp mengajarkan ‘apa’ dan ‘bagaimana’ secara efisien untuk mentransfer keterampilan spesifik yang terstandarisasi industri. Namun, ada tiga hal mendasar yang nyaris tidak pernah masuk kurikulum: kemampuan berpikir kritis, memahami keberagaman manusia, dan imajinasi naratif. Kemampuan berpikir kritis—mempertanyakan asumsi, menguji logika, dan tidak mudah menyerah pada tekanan otoritas atau tren pasar—jarang diasah. Pertanyaan ‘Bagaimana cara kerjanya?’ lebih dominan daripada ‘Apakah ini seharusnya dibuat?’ atau ‘Siapa yang akan dirugikan oleh produk ini?’. Ironisnya, krisis teknologi saat ini justru berasal dari kegagalan berpikir kritis, seperti penyebaran hoaks dan algoritma yang memperparah kesenjangan.

Kedua, pemahaman akan sejarah, budaya, dan kondisi kelompok manusia yang beragam juga terabaikan. Nussbaum menegaskan bahwa pengetahuan bukan jaminan perilaku baik, tetapi kebodohan adalah jaminan perilaku buruk. Ketiga, imajinasi naratif—kemampuan membayangkan diri di posisi orang lain—diasah oleh sastra, seni, dan filsafat, yang membuat manusia tidak hanya cerdas tetapi juga manusiawi. Aspek ini hilang dalam pelatihan keterampilan semata.

Dalam konteks pendidikan yang sangat berorientasi hasil, bootcamp secara struktural melatih kepatuhan. Kurikulum yang ditetapkan, standar yang harus dicapai, dan instruktur yang otoritasnya jarang dipertanyakan membuat murid ‘berhasil’ adalah mereka yang cepat menyerap dan mengeksekusi, bukan yang paling kritis. Penelitian Stanley Milgram dan efek konformitas Asch menunjukkan bahwa orang cenderung mengikuti otoritas dan pendapat mayoritas meski bertentangan dengan keyakinan sendiri.

Bootcamp sebenarnya tempat yang tepat untuk pembelajaran intensif dan berorientasi keterampilan dalam ekosistem pendidikan yang sehat. Masalahnya muncul ketika logika cepat, terukur, dan langsung terpakai mulai mendikte cara pandang terhadap seluruh pendidikan. Nussbaum mengingatkan bahwa seni, sastra, sejarah, dan filsafat bukan ornamen, melainkan cara manusia belajar menjadi manusia dalam kehidupan sosial. Pilihan ada pada individu: mengambil jalan tercepat untuk memenuhi ekspektasi ‘keberhasilan’ atau berani menjadi manusia secara utuh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.