Media Kampung, CeutaKrisis migrasi yang melibatkan ribuan imigran Maroko yang berusaha menyeberang ke wilayah otonom Spanyol di Ceuta memicu kritik keras dari Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, terhadap respons beberapa negara Uni Eropa (UE). Sanchez menilai pendekatan sebagian negara UE terhadap krisis migrasi ini bersifat egois, memecah belah, dan tidak sesuai hukum, sehingga menyerukan koordinasi bersama dalam menangani situasi tersebut.

Gelombang besar imigran yang berusaha memasuki Ceuta terjadi pada akhir Juli 2026, dengan sekitar 60.000 orang berhasil menyeberang ke wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Namun, sebagian besar dari mereka kemudian memilih kembali secara sukarela ke Maroko, dengan data terbaru menunjukkan 69.500 imigran telah kembali dalam waktu 30 jam terakhir. Sayangnya, krisis ini juga menimbulkan korban jiwa, dengan 67 orang dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam dan terinjak-injak saat berusaha melintasi perbatasan.

Baca juga:

Pedro Sanchez menyampaikan kecamannya melalui surat resmi kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, dan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin. Dalam suratnya, Sanchez menegaskan bahwa Spanyol telah mengambil langkah cepat untuk memulihkan kendali perbatasan, memberikan bantuan kemanusiaan, dan mencegah pergerakan ilegal ke wilayah Eropa lainnya. Namun, dukungan dari negara-negara anggota UE dinilai minim, dan beberapa justru menyerukan penangguhan Spanyol dari Kawasan Schengen meski Ceuta bukan bagian dari kawasan tersebut secara administratif.

Selain di Ceuta, ketegangan juga terjadi di Melilla, wilayah otonom Spanyol lainnya di Afrika Utara. Pada 1 Agustus 2026, ratusan imigran Maroko bentrok dengan aparat keamanan saat mencoba menerobos perbatasan. Bentrokan tersebut menyebabkan sejumlah petugas dan imigran terluka, serta penutupan jalur darat Beni Ansar-Melilla selama dua hari yang mengganggu arus perjalanan masyarakat, terutama warga diaspora Maroko.

Baca juga:

Untuk mencegah terjadinya penyeberangan susulan, pemerintah Spanyol mulai memasang barikade pengaman di perbatasan laut Tarajal. Sistem pengamanan ini terdiri dari barikade udara sepanjang 500 meter yang dilengkapi pelampung berjangkar dari Angkatan Laut Spanyol, namun tetap menyediakan akses bagi kapal patroli Garda Sipil.

Krisis migrasi ini menimbulkan dampak sosial dan kemanusiaan yang signifikan. Banyak imigran yang terpaksa kembali ke Maroko karena keterbatasan akses kebutuhan dasar di Ceuta, seperti toko dan tempat makan yang tertutup. Selain itu, kondisi yang membahayakan dan tingginya angka kematian menambah urgensi penanganan bersama di tingkat Uni Eropa.

Baca juga:

Pemerintah Spanyol menegaskan perbatasannya adalah salah satu yang paling ketat di UE, dengan posisi unik sebagai satu-satunya negara anggota yang memiliki perbatasan darat langsung dengan Afrika. Spanyol juga mengingatkan kontribusinya dalam membantu negara-negara UE lain menghadapi krisis migrasi sebelumnya, seperti di Belarus dan Italia.

Menanggapi krisis ini, Irlandia yang memegang presidensi bergilir Dewan UE telah menggelar pertemuan mekanisme Tanggap Krisis Politik Terpadu, dengan rencana pertemuan lanjutan untuk membahas langkah penanganan bersama. Sementara itu, Spanyol terus mengupayakan koordinasi bilateral dengan Maroko guna mengelola arus migrasi dan meningkatkan upaya perlindungan kemanusiaan bagi para imigran.