Media Kampung – Kisah tentang anak yang lebih memilih menjadi penggembala daripada bersekolah menjadi cermin nyata ketika sekolah kehilangan makna. Di Jawa Tengah, seorang anak enggan duduk di kelas dan memilih menggembala sapi milik tetangganya karena ia merasa lebih bahagia di padang rumput. Di sana ia bisa bekerja dan melihat hasil nyata, sementara di sekolah ia hanya duduk, menulis, dan menghafal hal yang tidak dipahami. Sekolah baginya tidak memberi makna hidup.
Fenomena ini mencerminkan kegagalan pendidikan dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Ketika pendidikan kehilangan relevansinya, anak-anak dari keluarga kecil akan semakin menjauh dan mencari kebahagiaan di luar ruang kelas. Hal serupa terjadi di Madura, di mana seorang petani tembakau meminta saran kepada mahasiswa, namun mereka hanya membuat janji dan tak pernah kembali.
Menurut Dr. Jejen Musfah, M.A., pendidikan sangat menentukan kemajuan bangsa. Namun, berbagai masalah terus berulang. Kurikulum silih berganti, program pelatihan guru seperti PPG, MGMP, dan KKG digalakkan, tetapi kualitas pendidikan belum menunjukkan perubahan signifikan. Pertanyaan mendasar muncul: apakah sistem pendidikan yang belum matang, atau masyarakat yang belum siap berperan aktif?
Faktor lain yang memperparah keadaan adalah minimnya arahan bagi orang tua, terutama di pelosok desa. Banyak orang tua tidak tahu pentingnya pendidikan, atau memiliki pengalaman pahit dengan sekolah. Sebagian besar bekerja sebagai buruh atau perantau, sehingga pendidikan sering dianggap bukan kebutuhan. Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa motivasi belajar. “Lebih baik bekerja seharian daripada bersekolah yang tak menjawab keadaan sekitar,” begitu kata sebagian orang tua.
Memperbaiki pendidikan tidak cukup hanya dengan mengganti kurikulum atau memperbanyak program pelatihan guru. Pemerintah perlu mendidik para orang tua terlebih dahulu, terutama yang tinggal di pelosok dan tidak pernah merasakan bangku sekolah. Mereka perlu diberi pemahaman tentang arti penting pendidikan, agar mampu menanamkan semangat belajar kepada anak-anaknya. Ketika orang tua tercerahkan, anak-anak akan mewarisi cahaya itu, dan mata rantai kebodohan bisa diputuskan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan