Media Kampung – Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan ekosistem pendidikan vokasi secara menyeluruh guna menekan angka pengangguran lulusan SMK. Menurutnya, program sertifikasi kompetensi bagi siswa SMK merupakan langkah strategis, namun harus dibarengi perbaikan sistem pendidikan vokasi secara konsisten.

Pada 2026, Direktorat SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyediakan bantuan sertifikasi bagi 250 ribu siswa, terdiri atas 150 ribu sertifikasi kompetensi dan 100 ribu sertifikasi bahasa asing. Meski demikian, Lestari menilai sertifikasi saja belum cukup untuk mengatasi tingginya angka pengangguran lulusan SMK.

“Peningkatan kualitas dan keterhubungan sekolah vokasi seperti SMK dengan sektor industri harus konsisten direalisasikan untuk menekan angka pengangguran,” ujar Lestari dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK mencapai 7,74 persen. Angka tersebut masih menjadi yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Meski menurun dari 8,63 persen pada Agustus 2025, lulusan SMK masih menyumbang 22,35 persen dari total pengangguran nasional.

Kondisi itu menunjukkan masih adanya kesenjangan antara keterampilan lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Lestari menilai upaya mewujudkan link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri harus terus diperkuat. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk meningkatkan penyerapan lulusan di dunia kerja.

“Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemangku kepentingan di sektor pendidikan dan dunia usaha. Tujuannya agar lulusan pendidikan vokasi dapat terserap di dunia kerja dengan baik,” ucap politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan berbagai program penguatan pendidikan vokasi. Perencanaan yang matang dinilai diperlukan agar lulusan mampu menjawab kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.