Media Kampung – Denpasar – Masa libur sekolah yang dimulai akhir Juni 2026 diperkirakan tidak mampu mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali secara signifikan. Tingginya biaya perjalanan, kondisi ekonomi, serta kenaikan harga kebutuhan pokok membuat masyarakat lebih selektif dalam merencanakan liburan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Karangasem, I Wayan Kariasa.

Menurut I Wayan Kariasa, libur sekolah tetap memberikan dampak terhadap sektor pariwisata, namun tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Tekanan ekonomi menyebabkan sebagian masyarakat mengurangi pengeluaran untuk berwisata. “Jadi untuk menyambut liburan sekolah yang akan datang itu dampak kelihatannya mungkin ada, tapi mungkin tidak akan signifikan. Karena sekarang harga tiket juga mahal, harga-harga BBM juga tinggi, sehingga mereka mungkin agak berkurang kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya pada Rabu, 24 Juni 2026.

Baca juga:

Selain faktor domestik, sektor pariwisata di Karangasem juga menghadapi penurunan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa. Situasi global yang memengaruhi jalur penerbangan internasional turut berdampak pada tingkat hunian hotel di wilayah tersebut. I Wayan Kariasa menambahkan, “Kalau kita lihat perkembangan dari tahun lalu dibandingkan tahun ini, tingkat kunjungan boleh dibilang menurun hampir di 40 persen. Karangasem itu sendiri lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan Eropa, sehingga ini berdampak besar terhadap tingkat kunjungan hotel di Kabupaten Karangasem.”

Baca juga:

Menghadapi kondisi ini, PHRI Karangasem menyatakan bahwa pelaku usaha pariwisata kini lebih fokus melakukan efisiensi operasional. Meskipun libur sekolah diharapkan tetap memberikan tambahan pergerakan wisatawan, para pelaku industri menilai pemulihan sektor pariwisata masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari faktor global maupun domestik.

Baca juga:

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.