Media Kampung – Wall Street menutup perdagangan Jumat dengan catatan positif, di mana indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan tertinggi setelah mengalami kenaikan 3,58 persen selama sepekan terakhir. Selain S&P 500, indeks Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite juga menunjukkan penguatan yang signifikan dalam periode yang sama.
Performa Indeks Saham Utama AS
Pada penutupan Jumat, Dow Jones naik sebesar 151,83 poin atau 0,28 persen menjadi 54.036,93, S&P 500 bertambah 47,68 poin atau 0,62 persen menjadi 7.757,64, dan Nasdaq Composite menguat 342,26 poin atau 1,30 persen menjadi 26.690,62. Secara mingguan, Nasdaq mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,19 persen, diikuti S&P 500 dan Dow Jones masing-masing naik 3,58 persen dan 2,96 persen.
Faktor Pendukung Penguatan Pasar
Sentimen positif pasar didorong oleh data tenaga kerja AS yang menunjukkan penurunan jumlah tenaga kerja nonpertanian sebanyak 23.000 pada bulan lalu, jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang memperkirakan tambahan 80.000 pekerjaan. Angka ini menimbulkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang, yang tercermin dari turunnya probabilitas kenaikan suku bunga menjadi sekitar 44 persen menurut CME FedWatch.
Selain itu, tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen pada bulan Juli dari 4,2 persen pada Juni, meskipun penurunan ini terkait dengan berkurangnya jumlah orang yang tergolong dalam angkatan kerja. Kondisi ini mendukung persepsi pasar mengenai perlambatan ekonomi yang dapat menekan kebijakan moneter The Fed.
Peran Laporan Keuangan dan Kondisi Global
Musim laporan keuangan perusahaan juga memberikan sentimen positif, dimana 85,1 persen dari 436 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang melaporkan kinerja hingga Jumat pagi melampaui ekspektasi analis. Kinerja perusahaan yang kuat, terutama di sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI), membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi pengeluaran besar perusahaan yang dapat memengaruhi perekonomian.
Kemajuan dalam upaya damai terkait konflik di Iran turut menurunkan harga minyak, yang berdampak pada pengurangan tekanan inflasi dan imbal hasil US Treasury, sehingga semakin menenangkan pasar keuangan.
Pergerakan Saham Terkemuka
- Saham SpaceX melonjak 15,8 persen setelah berakhirnya pembatasan lock-up pasca-penawaran umum pada Juni.
- Perusahaan perangkat lunak Atlassian mencatat kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah sebesar 35,3 persen setelah proyeksi pendapatan kuartalan di atas ekspektasi.
- Saham Microchip Technology naik 13,9 persen, mencatat performa terbaik dalam 15 bulan terakhir.
- Airbnb menjadi saham dengan kinerja terbaik di S&P 500 dengan kenaikan 17,4 persen setelah melaporkan pendapatan kuartal II yang melampaui prediksi analis.
- Di sisi lain, saham Trade Desk turun 21,9 persen setelah memperkirakan pendapatan kuartal III di bawah ekspektasi pasar.
Kondisi Pasar dan Volume Perdagangan
Di Bursa Efek New York, jumlah saham yang menguat mengungguli saham yang melemah dengan rasio 2,49 banding 1, sementara di Nasdaq rasio tersebut mencapai 2,07 banding 1. S&P 500 mencatat sembilan saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 minggu terakhir dan satu saham yang mencatat level terendah baru. Nasdaq Composite membukukan 123 saham mencapai level tertinggi baru dan 77 saham mencatat level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 16,94 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 17,56 miliar saham, menunjukkan aktivitas pasar yang masih cukup solid.
Proyeksi Kebijakan Moneter
Di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, bank sentral AS belum memberikan panduan jelas mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Hal ini membuat pelaku pasar lebih fokus pada data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed untuk menentukan langkah investasi mereka.
Meski menghadapi dilema antara menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan lapangan kerja dan risiko mendorong inflasi, pasar saham justru menunjukkan kenaikan rekor berkat kinerja laba perusahaan yang kuat dan harapan perlambatan kebijakan moneter.














Tinggalkan Balasan