Media Kampung – Aturan baru mengenai harga saham terendah Rp1 yang resmi diberlakukan mulai akhir September 2026 memunculkan kekhawatiran di kalangan investor terkait dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Banyak yang menduga bahwa kebijakan ini menjadi penyebab utama anjloknya IHSG. Namun, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa saham dengan harga Rp1 atau saham gocap tidak memiliki kontribusi signifikan terhadap koreksi pasar saham tersebut.
Data Resmi Menepis Kekhawatiran Pasar
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan data per 25 September 2026 yang menunjukkan bahwa hanya 26 saham berada di harga Rp50 dengan total bobot terhadap IHSG sebesar 1,91 persen. Bobot kecil ini membuktikan bahwa pergerakan saham lapis bawah tidak cukup kuat untuk menurunkan IHSG secara masif. Pada hari pertama aturan baru diberlakukan, saham-saham tersebut memang mengalami penurunan antara 8-14 persen, yang menyebabkan koreksi IHSG sekitar 0,27 persen atau 16,707 poin.
Fenomena Turunnya Harga Saham Gocap
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menjelaskan bahwa dari 164 saham dengan harga antara Rp50 hingga Rp100 per 25 September 2026, sebanyak 34 saham turun di bawah Rp50 pada hari pertama implementasi aturan baru. Penurunan ini merupakan bagian dari penyesuaian harga yang lebih realistis terhadap kondisi pasar dan likuiditas saham tersebut.
Tujuan Utama Aturan Harga Saham Rp1
Kebijakan ini bukan ditujukan untuk menimbulkan kekhawatiran, melainkan untuk meningkatkan likuiditas dan menciptakan mekanisme pembentukan harga (price discovery) yang lebih sehat. Selama ini, banyak saham yang terjebak di harga Rp50 tanpa adanya transaksi berarti, sehingga harga tidak mencerminkan nilai pasar yang sebenarnya. Dengan aturan baru, diharapkan pasar menjadi lebih dinamis dan harga saham mencerminkan kondisi riil.
Pergerakan Pasar Saham Terkini
Meski IHSG mengalami koreksi 0,43 persen pada penutupan perdagangan Selasa sore, posisi indeks tetap berada di level 6.121,70. Kelompok saham unggulan LQ45 juga turun tipis 0,60 persen ke level 608,16. Aktivitas jual beli tetap tinggi dengan frekuensi transaksi mencapai 1,78 juta kali dan nilai turnover sebesar Rp12,96 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 315 saham menguat, 391 saham melemah, dan 257 saham lainnya stagnan.
Penurunan IHSG lebih dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi dan faktor eksternal lain, bukan semata-mata oleh aturan harga saham terendah Rp1 yang baru diberlakukan. Investor dianjurkan untuk tetap memantau perkembangan pasar secara menyeluruh dan tidak terpaku pada satu faktor saja.











Tinggalkan Balasan