Media Kampung – Ada lima saham yang masuk radar kami memiliki valuasi yang super murah, tercermin dari PBV terkini sudah berada tepat atau di bawah -2 standar deviasinya. Lalu, bagaimana memahami sinyal saham murah ini?

Key Takeaways

  • Lima saham yang masuk radar valuasi murah: BRIS, CPIN, dan TBIG memiliki PBV di bawah -2 standar deviasi, sementara MTEL dan NISP tepat di batas tersebut.
  • Namun, valuasi murah bukan jaminan harga saham akan segera rebound. Katalis dan risiko tiap saham berbeda.

Fundamental Tetap Jadi Kunci

Pertumbuhan laba BRIS, pemulihan kinerja CPIN, ekspansi fiber dan kolokasi MTEL-TBIG, serta pertumbuhan kredit NISP bisa menjadi katalis. Mereka adalah:

  • PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
  • PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
  • PT Mitratel Tbk (MTEL)
  • PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
  • PT Bank OCBC Indonesia Tbk (NISP)

Apa Itu PBV Band dan -2 Standar Deviasi?

PBV (Price to Book Value) membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Sementara itu, PBV band menggambarkan rentang valuasi historis saham, biasanya dilengkapi garis rata-rata dan batas berdasarkan standar deviasi. Pada PBV band, saham disebut murah secara historis kalau nilainya sudah di bawah rata-rata, semakin dalam turunnya, maka semakin murah. Biasanya, -2 standar deviasi menjadi area paling bawah. Karena itu, saham yang PBV-nya menyentuh area tersebut bisa dianggap berada di area valuasi yang sangat murah dibandingkan historisnya.

Perbandingan Valuasi

Dari tabel berikut, BRIS, CPIN, dan TBIG memiliki PBV di bawah batas -2 standar deviasi. Sementara itu, MTEL dan NISP berada tepat pada batas tersebut. Kondisi ini bisa menjadi titik awal untuk mencari peluang. Meski begitu, kondisi ini bukan jaminan saham sudah undervalued atau harganya akan segera naik. Kinerja fundamental dan prospek bisnisnya tetap perlu diperiksa.

Ulasan Prospek dan Kinerja Saham

Saham BRIS

BRIS berencana rights issue jumbo hingga 6,8 miliar saham, yang saat ini masih menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan pada 6 November 2026. Kinerja keuangan BRIS terbilang solid, dengan laba bersih yang tumbuh 10,07 persen YoY.

Saham CPIN

CPIN menunjukkan perbaikan yang cukup kuat, dengan penjualan bersih yang naik 19,2 persen. Namun, saham ini juga mengalami penurunan signifikan akibat perubahan indeks MSCI.

Saham MTEL

MTEL menunjukkan pertumbuhan penyewaan yang baik meskipun baru-baru ini mendapatkan label HSC. Pendapatan MTEL juga meningkat, dengan potensi pertumbuhan dari bisnis fiber.

Saham TBIG

TBIG mengalami tantangan di struktur utang namun memiliki potensi pemulihan jika bisnis fiber dan kolokasi tumbuh.

Saham NISP

NISP mencatatkan laba bersih yang solid hingga Agustus 2026, dengan pertumbuhan kredit yang cukup agresif.

Gimana, dari lima saham ini kalian tertarik pilih yang mana?