Media Kampung – Kondisi pasar saham Indonesia saat ini memang tidak terlalu bagus, namun isu mengenai backdoor listing terus berlanjut. Dua emiten yang kini tengah berpotensi melakukan backdoor listing adalah PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) dan PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK).
Proyeksi Keuangan SQMI
SQMI berpotensi mendapatkan suntikan dana dari Maxglory Capital sekitar USD 2469,91 juta. Dana ini direncanakan untuk melanjutkan proyek emas Ciemas, membayar kewajiban, dan menambah modal kerja. Proyek Ciemas sendiri memiliki luas area sekitar 3.078 hektare dengan cadangan bijih 3,26 juta ton dan kadar emas rata-rata 7,7 gram per ton. Meskipun tambang mulai beroperasi secara komersial pada Maret 2023, operasional SQMI mengalami kendala yang berujung pada penurunan pendapatan yang signifikan. Pada semester I 2026, pendapatan hanya mencapai Rp591,04 juta, menurun dari Rp925,58 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Situasi STRK
Sementara itu, STRK di bawah PT Beruntung Berkat Sejahtera berencana mengambil alih 61,87 persen saham STRK. Keterkaitannya dengan PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) memunculkan spekulasi mengenai perubahan arah bisnis, meskipun belum ada konfirmasi mengenai injeksi aset baru. Potensi pengalihan kontrol ini bisa menjadi titik balik bagi STRK, yang saat ini menghadapi tantangan di pasar.
Analisis dan Implikasi
Kedua emiten ini memiliki cerita yang berbeda. SQMI lebih berfokus pada upaya untuk menghidupkan kembali bisnis tambang emas, sedangkan STRK menimbulkan pertanyaan tentang perubahan strategi bisnis setelah pengambilalihan. Seiring dengan situasi ini, para investor diharapkan untuk mempertimbangkan risiko dan peluang yang ada sebelum berinvestasi.
Dengan latar belakang ini, potensi backdoor listing dari SQMI dan STRK menjadi perhatian di kalangan investor, apalagi dengan kondisi pasar yang tidak ideal saat ini.













