Media Kampung – PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) sedang menghadapi perubahan signifikan dalam struktur manajemennya setelah pengunduran diri Hashim Djojohadikusumo dan Henny Santoso. Keduanya baru menjabat sebagai Komisaris Utama dan Direktur WIFI selama sekitar tiga bulan sebelum keputusan mundur ini diumumkan. Kejadian ini memunculkan pertanyaan tentang masa depan saham WIFI dan hubungan Grup Arsari dengan perusahaan.
Pengunduran diri Hashim dan Henny membuat pasar mempertanyakan apakah Grup Arsari akan tetap mempertahankan kepemilikannya di WIFI. Terlebih lagi, pengumuman Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 21 Oktober 2026 diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai susunan manajemen baru yang akan menggantikan posisi yang ditinggalkan.
Secara finansial, WIFI melaporkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan, dengan pendapatan telekomunikasi melonjak sekitar 450 persen menjadi Rp1,28 triliun pada semester I 2026. Namun, rincian kontribusi dari layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan fiber optik masih belum terpisah, sehingga analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami sumber pendapatan secara jelas.
Analisis Prospek Saham WIFI
Dengan harga saham yang telah turun sebesar 55 persen sepanjang tahun 2026, saham WIFI saat ini diperdagangkan dengan nilai buku yang mendekati satu kali. Ini menunjukkan bahwa saham tersebut telah terdiskon dan mungkin menarik bagi investor yang mencari peluang di sektor telekomunikasi.
Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan kemampuan WIFI dalam mengkonversi jaringan dan perangkat menjadi pelanggan berbayar. Proyek kabel bawah laut yang sedang dikembangkan juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan jangkauan WIFI, tetapi kontribusinya terhadap pendapatan masih tergantung pada struktur kerja sama dan realisasi operasional.
Kinerja FWA dan Target Pelanggan
WIFI telah mendapatkan frekuensi FWA 1,4 GHz dan memiliki dua produk utama: Internet Rakyat (IRA) dan Starlite. Saat ini, WIFI telah mencapai target awal untuk mendapatkan 500.000 pelanggan, dengan rencana meningkatkan jumlah tersebut menjadi 3 juta pelanggan. Namun, jika target ini tidak tercapai, ada risiko margin keuntungan yang tertekan, terutama mengingat biaya izin dan frekuensi yang signifikan.
Kesimpulan
Ketidakpastian seputar pengunduran diri Hashim Djojohadikusumo dan Henny Santoso menambah tantangan bagi WIFI. Investor perlu menantikan hasil RUPSLB dan perkembangan lebih lanjut mengenai strategi perusahaan di masa depan. Dengan pertumbuhan pendapatan yang pesat namun tantangan operasional yang ada, keputusan investasi di saham WIFI harus mempertimbangkan potensi risiko dan peluang yang ada. Sementara itu, perhatian terhadap struktur manajemen dan kinerja keuangan akan menjadi kunci dalam menentukan arah saham WIFI ke depan.














