Media Kampung – Era Media Sejahtera (DOOH) melalui anak usahanya, PT Cakrawala Nexus Investama, berencana melakukan akuisisi sebesar 29,88% saham Sinergi Inti Andalan Prima (INET) dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara dengan harga Rp300 per saham, total senilai Rp2 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari rencana transformasi DOOH untuk mengembangkan ekosistem dan infrastruktur AI yang mencakup pusat data AI, internet berkecepatan tinggi, serat optik, kabel bawah laut, dan energi hijau berupa panel surya.
Untuk mendanai aksi korporasi tersebut, PT Sinergi Internasional Investama, sebagai pengendali DOOH, telah menyediakan pinjaman pemegang saham hingga Rp5 triliun dengan bunga 7,5% per tahun dan jangka waktu 10 tahun. Sebagian atau seluruh pokok pinjaman dapat dikonversi menjadi ekuitas melalui mekanisme rights issue, di mana DOOH berencana menggelar rights issue hingga 154,8 miliar saham baru, yang dapat menyebabkan dilusi hingga 95,24%.
Rights issue ini juga akan disertai dengan waran, meskipun harga pelaksanaan dan rasio untuk rights issue dan waran belum diumumkan. DOOH juga merencanakan pengalihan alokasi sisa dana hasil IPO, dengan rencana mengalihkan Rp120 miliar sebagai modal kepada PT Cakrawala Nexus Investama untuk akuisisi INET.
Seiring transformasi ini, DOOH akan memperluas kegiatan usaha di bidang perusahaan induk, sementara kegiatan operasional periklanan akan dialihkan kepada anak usahanya, PT Media Sejahtera Selaras. Rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 9 November 2026.
Dalam keterbukaan informasi terpisah, PT Sinergi Internasional Investama juga mengumumkan rencana penawaran tender wajib atas 33,91% saham DOOH yang dimiliki publik dengan harga Rp148 per saham. Aksi ini merupakan bagian dari akuisisi 51% saham DOOH oleh PT Sinergi Internasional Investama pada Juli 2026 dengan harga Rp50 per saham atau senilai Rp197,3 miliar. Penawaran tender ini akan berlangsung dari 5 Oktober sampai 3 November 2026, dengan pembayaran pada 9 November 2026.
Dari sisi valuasi, akuisisi 30% saham INET senilai Rp300 per saham tergolong tinggi jika hanya dilihat dari kinerja INET selama paruh pertama tahun 2026, yang setara dengan 98 kali PE tahunan. Namun, dari sudut pandang harga pasar, valuasi transaksi ini hanya sedikit lebih tinggi 14% dibandingkan harga penutupan INET per Kamis (Rp110), yang dianggap wajar untuk akuisisi kepemilikan signifikan.
Ke depan, terdapat dua hal utama yang perlu dimonitor oleh investor: pertama, besaran rights issue DOOH, termasuk harga pelaksanaan dan jumlah saham baru yang akan diterbitkan. Meskipun RUPSLB hanya akan menyetujui pencairan pinjaman hingga Rp2 triliun untuk akuisisi INET, plafon pinjaman dari pengendali mencapai Rp5 triliun, sehingga ukuran rights issue DOOH bisa lebih besar dari Rp2 triliun seiring banyaknya rencana dan potensi pengembangan yang ada.















Tinggalkan Balasan