Media Kampung – Puluhan warga dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, anak-anak, hingga penyandang disabilitas, mengikuti kegiatan berjalan kaki di sejumlah kawasan Kota Denpasar untuk merasakan langsung kondisi fasilitas pejalan kaki. Kegiatan yang diinisiasi WRI Indonesia bersama Koalisi Bali Emisi Nol Bersih ini menyasar kawasan Sanur, Kreneng, Diponegoro-Gajah Mada, dan Monang Maning.

Dalam kegiatan tersebut, peserta menemukan berbagai kendala yang masih dihadapi pejalan kaki, mulai dari trotoar yang rusak, kendaraan yang parkir sembarangan, hingga minimnya akses yang ramah bagi penyandang disabilitas. Temuan ini menjadi masukan penting dalam penyusunan rekomendasi pengembangan ruang pejalan kaki yang lebih aman dan inklusif di Kota Denpasar.

Salah satu peserta, penyandang disabilitas pengguna kursi roda, I Nyoman Juniarta atau Bli Jigo, mengaku masih banyak hambatan yang ditemuinya saat menggunakan trotoar. “Banyak motor yang terparkir di trotoar, bahkan ada juga pedagang yang menjajakan dagangannya di area trotoar sehingga saya harus turun ke jalanan aspal. Ini yang membuat saya khawatir karena posisi saya mepet sekali dengan mobil dan motor yang melintas,” ujar Bli Jigo.

Penyandang disabilitas netra yang akrab disapa Bu Jero juga menceritakan pengalamannya ketika harus menghadapi berbagai rintangan di jalur pejalan kaki. “Sebagai penyandang disabilitas netra, saya pernah menyenggol satu motor yang parkir di trotoar dan akhirnya membuat lima motor yang berjajar jatuh. Saya juga sering harus turun ke marka jalan karena banyak penghalang di trotoar,” ungkapnya.

Transport and Urban Design Specialist WRI Indonesia, Dini Amattullah, mengatakan kota yang ramah pejalan kaki akan mendorong tumbuhnya interaksi sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat. “Manusia akan lebih merasakan ruang kota pada kecepatan berjalan kaki. Ketika manusia hadir di ruang kota, interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kehidupan publik ikut berkembang. Walkable City bisa dicapai apabila terdapat tempat tujuan yang dapat dicapai dengan berjalan kaki, ruang jalan yang nyaman, dan pejalan kaki aman terlindungi dari kendaraan bermotor,” jelas Dini.

Perwakilan Bina Marga Dinas PUPR Provinsi Bali, I Putu Gede Mahendra Ari Palguna, menyambut baik kegiatan tersebut karena memberikan banyak masukan terkait kondisi trotoar di lapangan. “Keberadaan pohon dan tanaman di trotoar berfungsi untuk peneduh bagi pejalan kaki. Namun, tidak dipungkiri tadi kita lihat banyak akar pepohonan yang merusak trotoar, yang perlu menjadi bahan evaluasi kami. Bahkan keberadaan ramp juga belum maksimal karena digunakan untuk parkir kendaraan,” katanya.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan tidak hanya berfokus pada kendaraan bermotor, tetapi juga memastikan pejalan kaki memperoleh ruang yang aman, nyaman, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.