Media Kampung – Pada Sabtu pagi (6/6/2026) di Pasar Karang, Nabire, pemandangan berbeda tersaji saat Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Sekelompok orang dari berbagai komunitas sibuk memunguti sampah plastik, botol bekas, dan sisa kemasan yang berserakan di antara lapak pedagang. Mereka adalah perwakilan Papua Tanpa Sampah (PTS) Nabire, Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP) Nabire, Pemuda Katolik Komda Papua Tengah, dan Kewita. Di bawah terik matahari, mereka bersatu mengusung pesan “Aksi Iklim dari Kampung untuk Kampung.”
Ketua APAP Nabire, Melodi Gobai, menegaskan aksi ini bukan sekadar seremonial. Baginya, ini adalah bentuk keprihatinan mendalam atas kondisi pasar yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat asli Papua. “Kondisi lingkungan di sekitar tempat berjualan mama-mama Papua cukup memprihatinkan. Sampah tidak tertangani dengan baik,” ujarnya dengan nada tertahan. Melodi melihat anomali: pasar sebagai tempat mencari nafkah justru terancam oleh tumpukan sampah non-organik yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan.
Theresia dari Pemuda Katolik menekankan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Ia percaya aksi iklim tidak melulu soal konferensi tingkat tinggi, melainkan kesadaran membuang sampah pada tempatnya di tingkat rumah tangga. “Kalau kita masih membuang sampah sembarangan, dampaknya akan kembali ke kita sendiri. Saluran air tersumbat, banjir, dan bibit penyakit,” tegasnya.
Namun, semangat komunitas ini juga menyimpan tuntutan tegas kepada pemerintah daerah. Anggota PTS Nabire, Alfy, menyoroti bahwa meski fasilitas bak sampah sudah tersedia, jumlahnya masih jauh dari cukup, begitu pula frekuensi armada pengangkut sampah. “Kami, komunitas, terus bergerak swadaya. Namun, pemerintah perlu lebih hadir, memperkuat pengawasan, dan memfasilitasi pengelolaan sampah yang lebih integratif,” ungkapnya.
Aksi di Pasar Karang hari itu menjadi pengingat bahwa kebersihan adalah tanggung jawab kolektif. Ada harapan besar agar aksi ini menjadi katalis bagi lebih banyak pihak—lembaga keagamaan, sekolah, hingga pelaku usaha—untuk turun tangan. Di akhir kegiatan, para relawan melontarkan pesan tajam: menjaga kebersihan bukanlah tugas segelintir orang atau beban yang bisa dilemparkan begitu saja kepada pemerintah. “Lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Mari kita jaga kebersihan demi Nabire yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkas mereka. Pasar Karang mungkin terlihat lebih bersih dari biasanya, namun pesan yang ditinggalkan jauh lebih besar: untuk menghadapi krisis sampah, Nabire butuh aksi nyata yang dimulai dari kesadaran setiap individu setiap hari.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan