Media Kampung – Presiden Klub Persita, Ahmed Zaki Iskandar, secara terbuka mengakui tanggung jawab atas posisi akhir tim di peringkat 10 klasemen Super League musim 2025/2026. Ia menyampaikan komitmen melakukan evaluasi menyeluruh demi memperbaiki performa dan membawa Persita kembali ke persaingan papan atas.
Persita sempat menunjukkan performa menjanjikan di paruh pertama musim, bahkan bersaing di posisi lima besar. Namun, penurunan konsistensi pada putaran kedua, terutama dalam sembilan pertandingan terakhir, membuat tim gagal mempertahankan posisi tersebut dan akhirnya menutup musim di peringkat ke-10 dengan total 45 poin.
Dalam pernyataan resminya, Ahmed Zaki menyampaikan apresiasi kepada para suporter yang terus mendukung Persita, khususnya di Indomilk Arena, yang menurutnya adalah nyawa klub. Meski demikian, ia mengakui hasil tersebut belum memenuhi target awal klub dan menjadi bahan evaluasi serius.
“Kami memahami kekecewaan Persita Fans, dan sebagai Presiden Klub, saya bertanggung jawab penuh atas hasil ini,” ujar Ahmed. Ia menegaskan akan melakukan penilaian objektif terhadap kontribusi pemain dan aspek teknis lain agar skuad ke depan lebih kompetitif.
Presiden Persita juga menyoroti peran pemain muda yang mulai menunjukkan potensi. Namun, ia menilai mereka membutuhkan pendampingan lebih matang agar mampu beradaptasi dan memberikan kontribusi optimal di skuad utama.
Langkah pembenahan cepat menjadi fokus manajemen untuk musim depan. Ahmed menegaskan tim akan dibangun tidak hanya dengan kemampuan teknis yang baik, tetapi juga mental juara dan determinasi tinggi untuk mengangkat kembali prestasi Pendekar Cisadane.
“Musim depan adalah kesempatan baru untuk bangkit dari keterpurukan. Saya mohon doa dan dukungan terus-menerus agar Persita bisa bersaing di papan atas sepak bola Indonesia,” tambahnya. Ia pun optimistis dengan sinergi antara manajemen, pemain, dan suporter, Pendekar Cisadane akan kembali tampil lebih kuat.
Posisi akhir di peringkat 10 klasemen Super League musim 2025/2026 menjadi refleksi penting bagi Persita untuk melakukan pembenahan menyeluruh. Evaluasi menyangkut performa tim, strategi teknis, serta pengembangan pemain muda menjadi prioritas utama demi mengejar target yang lebih tinggi di musim berikutnya.
Kondisi ini juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju kejayaan tidak selalu mulus, dan konsistensi adalah kunci utama dalam kompetisi ketat seperti Super League. Persita harus belajar dari pengalaman musim ini untuk menghindari penurunan performa di masa depan.
Dengan dukungan kuat dari suporter dan komitmen manajemen, Persita bertekad mengembalikan nama besar klub dan kembali menjadi salah satu kekuatan utama di kompetisi sepak bola Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan