Media Kampung – Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, sejak Selasa (30/6) hingga Kamis (2/7) belum juga padam. Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, para pencari rongsokan yang menggantungkan hidup dari sampah di TPA tersebut menjadi pihak yang paling terdampak.
Enjah (60), seorang wanita warga Kampung Pulo Pelawan, adalah salah satu dari sekian banyak pemulung yang kehilangan sumber penghasilan. Setiap pagi ia berangkat ke TPA bersama anaknya untuk mencari barang bekas, dan baru pulang menjelang sore. Hasilnya sekitar Rp100 ribu per hari digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk merawat suaminya yang sedang sakit. Namun sejak kebakaran terjadi, Enjah tak lagi bisa bekerja karena area tak dapat diakses dan asap pekat membuat matanya perih. Ia mengaku sudah beberapa hari tidak bisa mencari maupun menjual rongsokan. Saat menceritakan kondisinya, suara Enjah bergetar hingga menangis. Baginya, yang terpenting bukan hanya api segera padam, tetapi ia bisa kembali bekerja menghidupi keluarganya.
Kondisi serupa dialami Misar (62), warga yang tinggal sekitar 500 meter dari TPA dan sehari-hari mencari barang bekas di lokasi tersebut. Aktivitasnya terpaksa dihentikan karena truk sampah tidak lagi diizinkan masuk, dan kondisi lokasi dinilai membahayakan. Misar khawatir tanah di area TPA amblas akibat kebakaran. Sementara itu, Duda (49), warga Kampung Jonggol yang berjarak sekitar 1 km dari TPA, mengatakan kepulan asap sudah terlihat jelas dari rumahnya. Asap beberapa kali masuk ke permukiman ketika angin bertiup ke arah warga, menyebabkan sesak napas terutama pada anak-anak.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan kualitas udara di sekitar TPA berada pada kategori sangat tidak sehat. Masyarakat diminta menghindari area kebakaran dan menggunakan alat pelindung diri, termasuk masker. Pemadaman masih dilakukan melalui operasi darat dengan mobil damkar dan udara menggunakan helikopter water bombing. Namun, embusan angin memperluas area kebakaran, sehingga api sulit dipadamkan meski BNPB dan personel KLH telah dikerahkan. Teknologi modifikasi cuaca (TMC) pun disiapkan, tetapi belum bisa diterapkan karena tidak tersedia awan yang memenuhi syarat.
Pemerintah Kabupaten Tangerang telah meminta bantuan armada damkar dari Pemkot Tangerang untuk menjangkau lebih banyak titik dan mengantisipasi api merambat ke timbunan sampah yang belum terbakar. Gubernur Banten Andra Soni meminta semua bupati dan wali kota waspada terhadap potensi kebakaran TPA di wilayah masing-masing, terutama di tengah cuaca panas yang meningkatkan risiko kebakaran.
Kebakaran TPA Jatiwaringin yang luasnya sekitar 31 hektare dan disiapkan sebagai lokasi pengolahan sampah menjadi energi bagi Tangerang Raya ini diduga dipicu cuaca panas. Hingga hari keempat, api masih membara di bawah timbunan sampah, dan para pencari rongsokan seperti Enjah masih menunggu kondisi pulih agar bisa kembali mencari nafkah.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.























Tinggalkan Balasan