Media Kampung – Kabupaten Tangerang – Pemerintah Kabupaten Tangerang memutuskan untuk tetap mengoperasikan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin sebagai lokasi pembuangan sampah, meskipun kebakaran di area seluas 15 hektar belum sepenuhnya padam. Keputusan ini diambil untuk mencegah penumpukan sampah di jalan-jalan umum.

Antrean Truk Sampah hingga Dini Hari

Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, mengonfirmasi bahwa kegiatan pembuangan sampah tetap berjalan seperti biasa. “Oh, masih (buang sampah),” katanya pada Kamis, 2 Juli 2026. Ia menambahkan, “TPA Jatiwaringin tetap kita operasikan, daripada sampah menumpuk di jalan-jalan.”

Akibat kebakaran, truk-truk sampah tidak dapat masuk ke area pembuangan utama. Sebagai gantinya, kendaraan tersebut diarahkan ke lahan kosong di sekitar TPA yang disiapkan sebagai tempat parkir dan penampungan sementara. “Jadi ada lahan yang bisa kita manfaatkan untuk sementara. Itu penampungan bagi sampah-sampah yang baru datang melalui dump truck tersebut,” ujar Bupati.

Antrean truk sampah terpantau masih panjang hingga larut malam. “Sampai jam 02.00 WIB gitu ya,” kata Maesyal. Langkah ini diambil untuk menghindari kemacetan di jalan umum di sekitar TPA. “Biar tidak terlalu crowded di jalan-jalan yang ada di wilayah TPA Jatiwaringin,” tambahnya.

Pemadaman Baru Capai 30 Persen

Sementara itu, upaya pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin pada hari keempat baru mencapai 30 persen. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan dua helikopter water bombing tipe MI-8AMT dengan kapasitas kantung air 4.000 liter, serta 20 personel Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan.

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, menyatakan bahwa sekitar 30 persen area kebakaran mulai padam. “Walaupun kepulan asap dan titik api di beberapa gunungan sampah masih menyala,” ujarnya pada Jumat, 3 Juli 2026.

Untuk mempercepat penanganan, petugas menerapkan metode injeksi air langsung ke titik api di bawah permukaan sampah. “Sistem inject ini dibuat pipa di titik-titik api yang ada di TPA Jatiwaringin,” jelas Djohan. Metode ini dilakukan oleh petugas gabungan dari Damkar dan Manggala Agni.

Selain penyiraman dari udara menggunakan helikopter water bombing yang dioperasikan pagi, siang, dan malam hari, sebanyak 18 unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk menyisir titik-titik api yang belum terjangkau oleh unit pembom air. “Hari keempat, kita sudah mendatangkan dua unit helikopter water bombing, termasuk juga ada 18 pemadam kebakaran,” kata Djohan.

Dampak dan Implikasi

Keputusan untuk tetap beroperasi di tengah kebakaran menunjukkan prioritas pemerintah daerah dalam menjaga kelancaran layanan persampahan, meskipun risiko keamanan dan kesehatan masih mengemuka. Asap dari kebakaran TPA berpotensi mengganggu warga sekitar, namun belum ada laporan mengenai dampak kesehatan yang serius. Upaya pemadaman terus diintensifkan dengan metode injeksi dan water bombing untuk mempercepat pemulihan.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.