Media Kampung, Kulon Progo – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo melaporkan terjadi lonjakan signifikan dalam jumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2026. Tercatat ada 66 kejadian kebakaran, meningkat drastis dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencatat lima kejadian.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Kulon Progo, Eko Susanto, menjelaskan bahwa peningkatan ini terjadi karena tahun lalu merupakan tahun kemarau basah, sehingga kebakaran tidak semasif tahun ini. “Pada tahun 2025, kemarau termasuk kategori basah dengan sesekali hujan,” ungkapnya.

Berbagai faktor menyebabkan kebakaran terjadi, mulai dari yang diketahui hingga yang tidak diketahui. “Ada dugaan puntung rokok dibuang sembarangan, serta orang yang membersihkan pekarangan dengan membakar sampah tanpa pengawasan,” kata Eko. Selain itu, suhu yang panas juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko kebakaran, terutama dengan banyaknya daun kering yang mudah terbakar.

Pada Senin dan Selasa lalu, kebakaran terjadi berturut-turut di Pendoworejo, Girimulyo, dengan luas lahan yang terbakar mencapai 12 hektare. Pemadaman dilakukan secara manual karena lokasi kebakaran yang berada di perbukitan dan sulit dijangkau oleh armada pemadam kebakaran. “Kami menggunakan metode manual, di mana petugas harus naik ke lokasi dan menghalau api menggunakan galah. Sementara itu, kendaraan truk pemadam difokuskan di sekitar pemukiman untuk mencegah api menyebar ke area pemukiman,” tambah Eko.