Media Kampung, Pemalang – Polisi masih mendalami keterlibatan tiga kakak kelas, Muhammad Hasbi Al Aqib (7), siswa kelas 2 SDN 1 Kebodalem, Pemalang, yang diduga tewas karena dibully atau dirundung. Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela, mengatakan bahwa dua anak yang diduga terlibat duduk di kelas 5 dan satu anak duduk di kelas 6.
“Kami masih melakukan pendalaman pada kedua anak yang diduga terlibat, serta satu anak yang sempat diduga terlibat tersebut,” ujar Wildan dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10).
Wildan menjelaskan bahwa dugaan keterlibatan dua anak dari kelas 5 tersebut diperkuat dari keterangan sejumlah anak saksi yang melihat kejadian dugaan perundungan di lingkungan sekolah. Selain itu, korban juga sempat menunjuk foto keduanya sebagai pelaku yang merundungnya di sekolah.
Orang tua siswa ngamuk serta berunjuk rasa di SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, pada Senin (5/10/2026). “Kedua anak yang ditunjuk anak korban tersebut berasal dari kelas 5,” jelas dia.
Korban juga sempat menunjuk salah satu murid kelas 6, namun foto wajah anak tersebut terlihat kurang jelas. Ketika ditunjukkan foto yang lebih jelas, korban justru mengaku tidak mengenali anak tersebut.
Wildan menjelaskan bahwa korban mengeluh sakit saat sekolah pada 16 September 2026. Ia kemudian meminta pulang dan dijemput orang tuanya. Korban sempat mendapatkan perawatan di klinik, dan selanjutnya dirawat di rumah sakit sejak 17 September 2026 hingga 24 September 2026. “Setelah dinyatakan pulang dari rumah sakit, selanjutnya anak korban dirawat di rumah selama 6 hari dan tidak berangkat sekolah karena sakit,” imbuh dia.
Kemudian, pada 30 September 2026, pukul 16.00 WIB, anak korban tidak sadarkan diri di rumah, lalu dilarikan ke rumah sakit oleh orang tuanya. “Sekitar pukul 17.00 WIB, dokter menyatakan anak korban telah meninggal dunia,” tegas Wildan.
Wildan juga membantah kabar bahwa salah satu dari kakak kelas korban yang diduga terlibat merupakan anak dari anggota Polri. Ia juga memastikan tidak ada anak yang dilarikan ke luar kota oleh orang tuanya, seperti narasi yang beredar di media sosial. “Hal tersebut dibuktikan dari data kartu keluarga yang kami terima dari pihak sekolah, pekerjaan orang tua atau bapak dari ketiga anak tersebut adalah tenaga medis dan wiraswasta. Ketiganya berada di Pemalang,” kata Wildan.














