Media Kampung – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali meraih peringkat tertinggi, 5 Star Plus, dalam Healthy University Rating System (HURS) 2025 yang diselenggarakan oleh ASEAN University Network – Health Promotion Network, menegaskan posisi kampus sebagai contoh terbaik di kawasan ASEAN. Penghargaan ini melanjutkan rangkaian keberhasilan UGM sejak 2022 hingga kini.

HURS menilai universitas berdasarkan kemampuan menciptakan ekosistem kesehatan terintegrasi di lingkungan kampus, meliputi kebijakan, infrastruktur, serta program promosi kesehatan. UGM dinilai unggul karena berhasil menggabungkan ketiga pilar utama dalam sistemnya, sehingga memperoleh skor bintang lima plus.

Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, Ketua Health Promoting University (HPU) UGM, menjelaskan bahwa HURS dikembangkan untuk mendorong perguruan tinggi menghadirkan lingkungan sehat yang berkelanjutan, terutama menghadapi peningkatan penyakit tidak menular di kawasan ASEAN. “Waktu itu belum ada konsep kampus sehat seperti apa, jadi kami bersama beberapa universitas di ASEAN menyusun kerangkanya dari awal melalui berbagai pertemuan sejak 2014,” ujarnya pada Senin (4/5).

Penilaian HURS mencakup tiga pilar utama: sistem dan infrastruktur, zero tolerance area, serta health promotion area. Ketiga aspek tersebut dijadikan dasar untuk menilai sejauh mana universitas mampu menyediakan lingkungan yang mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Pencapaian 5 Star Plus menandakan bahwa UGM telah memenuhi kriteria optimal kampus sehat sesuai standar HURS, dengan kebijakan dan program yang terintegrasi di semua lini. Yayi menambahkan bahwa proses ini bersifat bertahap, dimulai dari penilaian bintang lima hingga akhirnya mencapai plus.

Sejak peluncuran inisiatif Health Promoting University pada 2019, UGM mengembangkan layanan kesehatan, edukasi, dan lingkungan aman yang melibatkan fakultas, mahasiswa, serta tenaga kependidikan. Program-program tersebut terjalin dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Implementasinya telah menghasilkan perubahan perilaku sivitas, misalnya melalui pos pembinaan terpadu (posbindu) yang mendorong individu lebih peduli terhadap kondisi kesehatan pribadi. “Awalnya mereka kaget saat tahu kondisi kesehatannya, tapi setelah itu mulai mencoba mengubah kebiasaan, misalnya dengan rutin jalan kaki,” kata Yayi.

Perubahan lain terlihat pada pola konsumsi makanan dan interaksi sosial; beberapa unit kampus mulai menyediakan pilihan makanan sehat, sementara mahasiswa saling mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat. Pendamping sebaya di berbagai fakultas juga memperkuat kesehatan mental, menciptakan budaya kampus yang lebih peduli secara kolektif.

Ke depan, UGM berkomitmen memperkuat kampus sehat melalui survei kesehatan berkala yang berbasis data, guna memantau perubahan perilaku dan kondisi kesehatan sivitas. Data tersebut akan menjadi dasar merancang program yang lebih tepat sasaran serta meningkatkan kualitas lingkungan belajar.

Yayi menekankan bahwa tujuan akhir adalah menghasilkan lulusan tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat dan produktif, siap bersaing di dunia kerja. “Kampus itu diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat dan produktif, sehingga siap untuk bekerja,” pungkasnya.

Dengan penghargaan 5 Star Plus yang kembali diraih, UGM memperkuat komitmen jangka panjangnya untuk menjaga lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan seluruh sivitas akademika.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.