Media Kampung – Di tengah ketegangan berkepanjangan dengan Uni Eropa, Rusia justru berhasil membuka peluang bisnis baru di Afrika. Moskow berpotensi mengamankan investasi dan perdagangan senilai lebih dari 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 32 triliun melalui kerja sama yang tengah dijajaki dengan Tanzania, ekonomi terbesar kedua di kawasan Afrika Timur.

Hubungan Rusia dan Uni Eropa masih berada di titik terendah sejak Perang Dingin. Kedua pihak terlibat perselisihan di berbagai bidang, mulai dari perang Ukraina, energi, perdagangan, keamanan, hingga sanksi ekonomi. Dampak konfrontasi itu di Eropa tidak hanya memicu lonjakan harga energi dan meningkatnya biaya industri, tetapi juga mulai memunculkan perbedaan pandangan di antara negara-negara anggota Uni Eropa. Sejumlah politisi di Jerman, Hungaria, Slovakia, dan beberapa negara lain mempertanyakan efektivitas kebijakan konfrontatif terhadap Moskow.

Sementara itu, Rusia terus mencari pasar dan mitra ekonomi baru di luar Eropa. Salah satu yang terbaru adalah Tanzania, yang membidik investasi dan kerja sama bisnis senilai lebih dari 2 miliar dolar AS dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Kerja sama itu mencakup sektor kesehatan, pertambangan, energi, pertanian, teknologi, hingga produksi vaksin, sebagaimana diberitakan Business Insider pada Selasa (10/6/2026).

Bagi Moskow, kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa sanksi dan tekanan Barat tidak menghentikan upaya Rusia memperluas pengaruh ekonominya di kawasan Global South. Sebaliknya, sejumlah negara berkembang justru melihat Rusia sebagai salah satu alternatif sumber investasi, teknologi, dan kerja sama strategis.

Kontras itu terlihat jelas. Di satu sisi, sebagian negara Eropa masih memperdebatkan biaya ekonomi dan energi akibat memburuknya hubungan dengan Rusia. Di sisi lain, Rusia terus berupaya mengalihkan orientasi perdagangan dan investasinya ke Asia, Timur Tengah, dan Afrika untuk menggantikan pasar yang hilang di Eropa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.