Media Kampung – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa kesepakatan yang solid dengan Iran segera tercapai. Dalam kunjungannya ke New Delhi, India, Rubio mengungkapkan bahwa negosiasi antara AS dan Republik Islam Iran kini memiliki fondasi yang kuat di atas meja pembicaraan.
Rubio menambahkan bahwa kedua negara diperkirakan akan mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik yang terjadi, dengan target waktu pada hari Senin, 25 Mei 2026. Kesepakatan ini diharapkan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz, serta rencana pembicaraan lanjutan terkait program nuklir Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan sejumlah negara penghasil minyak terbesar di dunia, dimana sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan ini. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya telah menyebabkan kenaikan harga minyak secara signifikan dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Meski optimis, Rubio mengingatkan agar publik tidak terlalu cepat menafsirkan hasil pembicaraan tersebut karena masih diperlukan waktu untuk mendapatkan tanggapan resmi dari pihak Iran. Kondisi komunikasi dengan Iran juga terhambat oleh situasi keamanan internal, termasuk keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan bersembunyi di lokasi yang dirahasiakan setelah mengalami luka akibat serangan militer Israel.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebutkan bahwa kedua pihak sebenarnya berada dalam posisi yang sangat dekat namun juga sangat jauh untuk mencapai kesepakatan final. Beberapa isu penting masih harus diselesaikan, terutama mengenai cakupan dan jadwal pencabutan sanksi AS terhadap Iran, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta pembatasan ambisi nuklir negara tersebut.
Kesepakatan yang diusulkan ini juga menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan Partai Republik di Amerika Serikat. Beberapa senator seperti Ted Cruz dan Lindsey Graham mengkritik rencana gencatan senjata 60 hari yang dianggap terlalu lunak dan berpotensi melemahkan posisi AS dan sekutunya di kawasan.
Presiden Donald Trump sebelumnya menginstruksikan para negosiator agar tidak terburu-buru mencapai kesepakatan, namun tetap menyatakan bahwa jika kesepakatan tercapai, maka itu akan menjadi kesepakatan yang tepat. Trump menegaskan bahwa Iran harus memahami bahwa mereka tidak boleh mengembangkan senjata nuklir, meskipun Teheran terus menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.
Konflik dimulai pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran yang kemudian memicu serangan balasan dari Iran ke Israel dan negara-negara sekutu AS di Teluk. Selat Hormuz sempat ditutup oleh Iran sebagai bentuk tekanan. Setelah gencatan senjata disepakati pada awal April 2026, AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan agar kesepakatan dapat terwujud.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas dapat mengharuskan Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya tinggi sebagai langkah untuk menjamin tidak dikembangkannya senjata nuklir. Saat ini, Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen kemurnian, mendekati ambang batas senjata nuklir.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan kesediaan negara untuk meyakinkan dunia bahwa mereka tidak mengejar senjata nuklir. Sementara itu, negosiasi terus berjalan dengan harapan kesepakatan yang solid akan membawa stabilitas di kawasan dan mengurangi ketegangan global.
Hingga saat ini, kedua pihak masih berproses dalam pembicaraan yang krusial tersebut, dan publik internasional menantikan hasil yang dapat mengakhiri konflik panjang dan mengembalikan keamanan di wilayah Timur Tengah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan