Media Kampung – 17 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa perang melawan Iran akan segera berakhir setelah negosiasi dilanjutkan minggu ini. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis, 16 April 2026.

Trump menegaskan bahwa serangan gabungan dengan Israel pada 28 Februari 2026 menjadi langkah krusial untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia menambahkan, “Kalau aku tidak melakukan itu, Iran pasti sudah punya senjata nuklir, dan kalian pasti tidak mau begitu.”

Menurutnya, keputusan militer tersebut menyelamatkan kepentingan keamanan regional dan mengurangi risiko proliferasi nuklir. Trump menilai bahwa tanpa tindakan itu, Iran akan mempercepat program nuklirnya dalam hitungan bulan.

Dalam wawancara yang sama, Trump mengklaim Iran sangat ingin menandatangani kesepakatan setelah kegagalan pembicaraan sebelumnya di Pakistan. Ia mengatakan, “Jika saya pergi sekarang juga, mereka membutuhkan waktu 20 tahun untuk membangun kembali negara itu, dan kita belum selesai.”

Trump menambahkan bahwa putaran kedua pembicaraan akan dilaksanakan dalam dua hari ke depan di Islamabad. Ia menekankan bahwa kedua pihak diperkirakan akan menyepakati langkah-langkah konkret untuk menghentikan permusuhan.

Presiden AS juga menyebutkan kemungkinan tercapainya kesepakatan sebelum kunjungan Raja Charles III ke Gedung Putih pada 27 April 2026. Ia menilai hal tersebut dapat memperkuat legitimasi diplomatik Amerika Serikat di panggung internasional.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengapresiasi sinyal positif tersebut dan menyatakan pentingnya memulai kembali dialog setelah pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar. Guterres menekankan, “Akan sangat penting jika pembicaraan ini menciptakan kondisi yang memungkinkan perubahan dalam cara para pihak menjalankan kegiatan mereka.”

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menggelar negosiasi pertama di Pakistan dengan tujuan mengakhiri konflik, namun pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan. Penyebab utama kegagalan adalah penolakan Iran untuk melepaskan hak atas program nuklir damai.

Isu nuklir tetap menjadi titik tumpu utama, karena Iran menuntut hak mengembangkan teknologi nuklir untuk kepentingan sipil, sementara Amerika Serikat menilai hal itu dapat disalahgunakan untuk senjata. Kedua belah pihak belum menemukan kompromi yang dapat diterima.

Selain itu, Iran berupaya mempertahankan kendali atas lalu lintas di Selat Hormuz melalui sistem tarif yang diusulkan, menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara pelayaran internasional. Amerika Serikat menolak mekanisme tersebut sebagai bentuk tekanan ekonomi yang tidak adil.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa selama pertemuan di Islamabad, pihak Tehran mengemukakan posisi terkait nuklir, pencabutan sanksi, dan kompensasi. Baghaei menegaskan, “Posisi kami tetap bahwa program nuklir damai tidak boleh dibatasi secara sepihak.”

Baghaei menambahkan bahwa Amerika Serikat masih menahan isu nuklir sebagai titik keras yang tidak dapat diterima oleh Iran, dan ia menuntut diskusi lanjutan untuk menemukan solusi yang berkeadilan.

Dalam konferensi pers terpisah, Baghaei menyoroti bahwa perjanjian gencatan senjata mencakup penghentian sementara pertempuran di Lebanon antara Hizbullah dan pasukan Israel, namun implementasinya belum terwujud secara penuh.

Negosiasi yang dijadwalkan di Islamabad diperkirakan akan melibatkan delegasi tinggi dari kedua negara serta mediator internasional, termasuk perwakilan PBB dan Pakistan. Proses ini diharapkan menghasilkan roadmap konkret dalam tiga minggu ke depan.

Para pengamat menilai bahwa kesepakatan damai akan berdampak signifikan pada stabilitas Timur Tengah, khususnya dalam mengurangi ketegangan di Selat Hormuz dan menurunkan risiko konflik berskala lebih luas. Dampaknya juga akan terasa pada pasar energi global.

Di dalam negeri Amerika Serikat, keputusan Trump untuk melanjutkan dialog mendapat sambutan beragam. Beberapa anggota Kongres menyambut langkah diplomatik, sementara kelompok konservatif menilai kebijakan sebelumnya sudah cukup tegas.

Sementara itu, pihak militer AS tetap memantau situasi di lapangan, siap memberikan dukungan logistik jika diperlukan, namun menekankan prioritas pada solusi politik.

Hingga akhir hari ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai hasil awal pertemuan di Islamabad. Kedua belah pihak menyatakan komitmen untuk melanjutkan dialog, dan dunia menantikan apakah pernyataan Trump tentang akhir perang akan terwujud dalam minggu-minggu mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.