Media Kampung – Negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung sejak Mei 2026 menghadapi banyak kendala akibat situasi rumit di lapangan dan kondisi komunikasi yang terbatas dari pihak Iran. Salah satu faktor utama yang membuat proses negosiasi berjalan alot adalah keberadaan Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang disebut masih bersembunyi dan hanya berkomunikasi melalui jaringan kurir rahasia.
Menurut pakar ekstremisme dari George Washington University, Omar Mohammed, keberadaan Mojtaba sangat sensitif dan menjadi target militer, sehingga komunikasi resmi harus melalui perantara rahasia dan memakan waktu lama. Hal ini menyebabkan respons Iran terhadap tawaran AS dalam perundingan cenderung lambat dan membuat Washington merasa gelisah.
Situasi ini terjadi di tengah ketegangan yang juga terlihat dari serangan udara presisi Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 25 Mei 2026 di sekitar Bandar Abbas, lokasi pangkalan penting Angkatan Laut Iran. Serangan ini merupakan bagian dari diplomasi koersif yang dijalankan AS untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan damai.
Meski begitu, kedua negara berhasil mencapai beberapa kesepakatan awal dalam negosiasi yang dimediasi Pakistan. Pada pekan lalu, AS dan Iran menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan penuh Selat Hormuz oleh Iran, pelonggaran sanksi minyak oleh AS, serta pembukaan blokade pelabuhan Iran. Kesepakatan ini bertujuan menjaga stabilitas kawasan dan membuka peluang perdamaian yang lebih luas.
Namun, perundingan tetap rumit karena adanya ketegangan politik yang tinggi, termasuk ancaman keras yang disampaikan Mojtaba Khamenei terhadap Israel dan sikap kerasnya terhadap pengaruh AS di Timur Tengah. Dalam pernyataan pada 26 Mei 2026, Mojtaba menegaskan bahwa keberadaan Israel akan segera berakhir dan menolak peran negara-negara kawasan sebagai tameng AS.
Diplomasi yang berjalan di tengah ancaman militer dan komunikasi rahasia ini menegaskan bahwa perdamaian di Timur Tengah masih penuh tantangan. Keberadaan Mojtaba Khamenei dalam persembunyian serta metode komunikasi yang rumit menjadi penyebab utama lambatnya respons Iran, sehingga negosiasi AS-Iran hingga kini masih berjalan sangat alot.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan