Media Kampung, Baikonur, Kazakhstan — Rusia kembali mengirim kru ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Selasa (14/7) melalui misi Soyuz MS-29. Peluncuran ini menjadi simbol berlanjutnya kerja sama antariksa antara Rusia dan Amerika Serikat, meski hubungan kedua negara masih dibayangi perang Ukraina.
Pesawat antariksa Soyuz MS-29 lepas landas dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan, pukul 10.47 EDT. Di dalamnya terdapat dua kosmonaut Rusia, Pyotr Dubrov dan Anna Kikina, serta astronaut NASA, Anil Menon. Mereka tiba di ISS sekitar tiga jam setelah peluncuran, saat stasiun luar angkasa melintas di atas Laut Mediterania.
Ketiganya akan menjalani misi selama sekitar delapan bulan sebagai bagian dari Ekspedisi 75. Kedatangan mereka menambah jumlah penghuni ISS menjadi sembilan orang, terdiri dari tiga astronaut AS, dua astronaut Eropa, dan empat kosmonaut Rusia.
Kunjungan Langka Pimpinan NASA ke Baikonur
Peluncuran kali ini menarik perhatian karena dihadiri langsung oleh Administrator NASA, Jared Isaacman, yang datang ke Baikonur untuk bertemu Kepala Badan Antariksa Rusia (Roscosmos), Dmitry Bakanov. Kunjungan tersebut menjadi yang pertama dilakukan seorang pimpinan NASA ke fasilitas peluncuran Rusia sejak 2018. Sebelumnya, hubungan diplomatik yang memburuk akibat invasi Rusia ke Ukraina membuat mantan Administrator NASA, Bill Nelson, tidak melakukan kunjungan serupa.
Misi ini juga menjadi penerbangan antariksa pertama bagi Anil Menon, astronaut NASA berusia 49 tahun. Isaacman, miliarder yang pernah terbang dalam misi luar angkasa privat Polaris Dawn pada 2024, mengenal Menon secara pribadi. Dalam misi tersebut, ia terbang bersama istri Menon, Anna Menon, yang merupakan insinyur SpaceX.
“Anil telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempersiapkan momen ini. Ia adalah akademisi, perwira militer, dokter, pilot, suami, ayah, dan saya yakin akan menjadi salah satu astronaut terbaik Amerika Serikat,” tulis Isaacman di platform X setelah peluncuran.
Kerja Sama ISS di Tengah Ketegangan Geopolitik
Selama 27 tahun beroperasi, ISS menjadi salah satu sedikit proyek yang mampu mempertahankan kerja sama erat antara AS dan Rusia. Kolaborasi tersebut tetap berlangsung meski kedua negara terlibat ketegangan geopolitik, terutama sejak perang Rusia-Ukraina.
Salah satu alasan kerja sama antariksa antara AS dan Rusia tak pernah runtuh adalah ketergantungan teknis. Panel surya milik Amerika memasok listrik untuk seluruh ISS, sementara modul Rusia bertanggung jawab menjaga orbit stasiun menggunakan sistem pendorongnya. Selain itu, kedua negara masih menganggap ISS sebagai bagian penting dari program penerbangan antariksa berawaknya, di tengah meningkatnya persaingan dan militerisasi ruang angkasa.
Meski kerja sama tetap berjalan, hubungan NASA dan Roscosmos tidak selalu mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua badan antariksa beberapa kali berbeda pendapat mengenai sumber dan metode penanganan kebocoran udara yang terjadi di ISS yang kini telah menua. Bulan lalu, NASA bahkan meminta para astronautnya bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi ketika muncul perbedaan pandangan dengan Roscosmos terkait cara memperbaiki salah satu kebocoran. Seorang kosmonaut Rusia berencana menggunakan gergaji untuk membuka kompartemen yang diduga menjadi sumber kebocoran, langkah yang sempat menimbulkan kekhawatiran di pihak NASA.
Kondisi ISS yang diperkirakan akan pensiun setelah 2030 diyakini menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan antara Jared Isaacman dan Dmitry Bakanov. Video yang diunggah Roscosmos di Telegram memperlihatkan keduanya berdiskusi bersama sejumlah pejabat senior badan antariksa Rusia. Hingga kini, baik NASA maupun Roscosmos belum memberikan keterangan resmi mengenai hasil pertemuan tersebut.
Kembalinya Operasional Penuh Site 31 Baikonur
Peluncuran Soyuz MS-29 juga menandai kembalinya operasional penuh Site 31 di Kosmodrom Baikonur. Sebelumnya, landasan bersejarah tersebut mengalami kerusakan parah akibat peluncuran berawak terakhir Rusia, sehingga satu-satunya fasilitas peluncuran awak yang dimiliki Moskow harus menjalani perbaikan selama beberapa bulan. Rusia mulai mengaktifkan kembali landasan itu pada Maret lalu melalui peluncuran misi kargo tanpa awak menuju ISS.
Kini, dengan keberhasilan peluncuran Soyuz MS-29, Baikonur kembali menjadi gerbang utama bagi misi berawak Rusia menuju luar angkasa, sekaligus menegaskan bahwa kerja sama di ISS masih mampu bertahan di tengah dinamika politik yang terus berubah di Bumi.























Tinggalkan Balasan