Media Kampung – 13 April 2026 | Survei terbaru yang dilakukan oleh YouGov bekerja sama dengan CBS News mengungkap bahwa hampir tujuh dari sepuluh warga Amerika Serikat merasa khawatir akan kemungkinan konflik bersenjata antara Amerika dan Iran. Persentase kekhawatiran tercatat sebesar 68 persen, menandakan meningkatnya kecemasan publik terhadap ketegangan geopolitik.

Penelitian tersebut melibatkan 2.387 responden dewasa di seluruh Amerika Serikat selama periode 8–10 April 2026, dengan margin kesalahan statistik sebesar 2,4 poin persentase. Hasilnya menunjukkan 57 persen responden mengalami tekanan emosional, sementara 54 persen mengaku marah terkait situasi tersebut.

Sebanyak 59 persen warga menilai konflik yang sedang berlangsung sebagai “agak buruk” atau “sangat buruk” bagi kepentingan nasional Amerika, naik dua poin dibanding survei sebelumnya pada 22 Maret. Data ini menegaskan persepsi negatif yang meluas terhadap dampak geopolitik konflik tersebut.

Mayoritas responden, yaitu 62 persen, menilai Presiden Donald Trump tidak memiliki rencana yang jelas dalam menangani krisis ini, dan 66 persen berpendapat pemerintah belum memberikan penjelasan memadai mengenai tujuan militer Amerika di kawasan tersebut. Kritik ini mencerminkan keinginan publik akan transparansi kebijakan luar negeri.

Ancaman Trump yang mengumumkan akan “menghancurkan peradaban Iran” melalui platform Truth Social pada 7 April 2026 memperoleh respons negatif dari 59 persen responden, dengan 47 persen menyatakan sangat tidak menyukai pernyataan tersebut. Pernyataan keras tersebut memperparah citra kepemimpinan Presiden di mata publik.

Secara keseluruhan, 64 persen warga Amerika tidak menyetujui cara Presiden Trump menangani situasi dengan Iran, meningkat dua poin dari survei sebelumnya, dan 61 persen memberikan penilaian negatif terhadap kinerjanya secara umum. Angka-angka ini menandakan penurunan kepercayaan terhadap administrasi saat ini.

Konflik yang memanas sejak 28 Februari 2026, ketika pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target strategis di Iran, termasuk di ibu kota Tehran, memicu balasan Iran berupa serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Insiden tersebut menimbulkan korban sipil dan menambah ketegangan regional.

Menanggapi situasi, pada 7 April Presiden Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dua pekan dengan Iran, menyatakan akan menangguhkan bombardir dan operasi militer lainnya selama periode tersebut. Pernyataan gencatan senjata tersebut disertai rencana blokade angkatan laut di Selat Hormuz untuk mencegah Iran melakukan apa yang disebutnya “pemerasan”.

Meski ada harapan bahwa gencatan senjata dapat meredakan ketegangan, sebagian besar warga tetap skeptis karena belum ada kejelasan mengenai langkah selanjutnya setelah dua pekan berakhir. Kecemasan publik dipicu oleh ketidakpastian tentang kemungkinan eskalasi kembali.

Para ahli keamanan internasional menilai bahwa survei ini mencerminkan tekanan psikologis yang signifikan pada masyarakat Amerika, terutama mengingat dampak ekonomi global yang dapat timbul dari gangguan perdagangan minyak di Selat Hormuz. Mereka menekankan pentingnya diplomasi multilateral untuk mencegah konflik meluas.

Selain itu, laporan dari lembaga pemantau hak asasi manusia mencatat peningkatan kekhawatiran atas potensi pelanggaran hak sipil di wilayah yang terdampak, baik di Iran maupun di daerah konflik sekitar. Situasi tersebut menambah beban moral bagi pemerintah Amerika dalam menentukan kebijakan selanjutnya.

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah AS belum memberikan pernyataan resmi yang memperjelas strategi jangka panjangnya, sementara oposisi politik di Kongres menuntut transparansi lebih lanjut dan meminta audit kebijakan militer. Tekanan politik domestik ini menambah kompleksitas pengambilan keputusan.

Seiring berjalannya waktu, hasil survei ini diproyeksikan akan menjadi acuan bagi pembuat kebijakan dalam menilai dukungan publik terhadap langkah-langkah militer dan diplomatik selanjutnya. Keberlanjutan gencatan senjata dan upaya diplomatik akan menjadi faktor kunci dalam menurunkan tingkat kekhawatiran warga Amerika.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.