Media Kampung, Denpasar — Siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar mengangkat tema “Jangan Ikut Campur Urusan Orang Lain” sebagai refleksi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Acara yang digelar Rabu, 16 Juli 2026, menghadirkan Ajik Tibah dan Beli Kejoer yang mengupas pesan moral dari kisah-kisah dalam sastra Tantri.
Dalam dialog tersebut, Tibah menjelaskan bahwa cerita Tantri sarat dengan pesan moral yang tetap relevan hingga saat ini, terutama mengenai pentingnya menjaga sikap, perkataan, dan tindakan. Menurutnya, seseorang hendaknya lebih fokus memperbaiki diri daripada sibuk mengomentari kehidupan orang lain yang belum tentu dipahami secara utuh.
“Kalau itu bukan urusan kita, sebaiknya jangan ikut campur karena kita belum tentu mengetahui persoalan yang sebenarnya,” jelas Tibah. Ia menambahkan bahwa kebiasaan memberi penilaian secara tergesa-gesa hanya akan melahirkan kesalahpahaman dan memperkeruh keadaan.
Fenomena media sosial turut dibahas dalam kesempatan itu. Kejoer mengingatkan bahwa di era digital, komentar sembarangan semakin mudah dilontarkan dan seringkali tanpa pertimbangan dampak. “Di media sosial, banyak orang saling membully hanya karena komentar yang tidak dipikirkan dengan baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa setiap tulisan maupun ucapan memiliki konsekuensi yang dapat melukai perasaan orang lain. Oleh karena itu, penting untuk berpikir sebelum berkomentar, terutama di ruang publik seperti media sosial.
Tibah kembali menegaskan bahwa penampilan luar seseorang tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai kepribadiannya. Masyarakat diajak untuk tidak mudah meremehkan orang lain karena setiap individu memiliki perjuangan hidup yang berbeda dan potensi yang belum tentu terlihat. “Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat, karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjalanan hidupnya,” ungkapnya.
Menurut Tibah, sikap menghargai sesama merupakan bentuk kebijaksanaan yang akan menciptakan hubungan sosial yang lebih harmonis. Selain menghindari kebiasaan mencampuri urusan orang lain, masyarakat juga diajak untuk memperbanyak introspeksi dan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas diri.
“Lebih baik kita fokus memperbaiki diri sendiri daripada sibuk menghakimi kehidupan orang lain,” tutup Kejoer. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kedamaian batin dan keharmonisan sosial dapat terwujud ketika setiap orang mampu menjaga ucapan, menghormati batas privasi, serta tidak mudah menghakimi sesama.























Tinggalkan Balasan