Media Kampung, Kelompok separatis Baloch Liberation Army (BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri yang menargetkan kamp Penjaga Pantai Pakistan di kawasan Panwan, Jiwani, Gwadar, pada Jumat (3/7/2026) malam. Dalam pernyataan resminya, BLA menyatakan lebih dari 30 personel keamanan Pakistan tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Serangan dilakukan oleh Brigade Majeed, unit elit BLA. Seorang pelaku bom bunuh bunuh diri yang diidentifikasi sebagai Attaullah Baloch alias Ajmal dilaporkan menabrakkan truk Mazda berisi bahan peledak ke kamp yang dibentengi tersebut sekitar pukul 18.32 waktu setempat. Juru bicara BLA Jeeyand Baloch mengatakan, “Akibat ledakan dahsyat ini, kamp kolonial Penjaga Pantai yang dibentengi berubah total menjadi tumpukan puing.”

Rekaman video berdurasi 43 detik yang dirilis sayap media BLA, Hakkal, memperlihatkan truk bermuatan bahan peledak memasuki kompleks kamp sesaat sebelum ledakan besar. Setelah ledakan awal, unit bersenjata BLA yang disebut Fateh Squad melancarkan serangan darat terkoordinasi dari berbagai arah ke kamp yang hancur. “Segera setelah serangan, unit garda depan organisasi kami, Fateh Squad, bergerak maju dengan cepat dan terorganisir, melancarkan serangan ke kamp yang hancur dari semua sisi,” demikian pernyataan BLA.

BLA mengklaim bahwa lebih dari 30 personel paramiliter Pakistan tewas dalam operasi gabungan tersebut. Juru bicara BLA menambahkan bahwa jumlah korban kemungkinan bertambah karena beberapa personel terjebak di bawah reruntuhan dan banyak yang luka kritis. Pihak berwenang Pakistan hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai klaim tersebut atau jumlah korban pasti.

BLA menegaskan akan melanjutkan kampanye bersenjata melawan pasukan keamanan Pakistan dengan intensitas yang sama hingga tujuan akhir “kemerdekaan penuh Balochistan” tercapai. Kelompok separatis ini telah dilarang dan bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap pasukan keamanan, instalasi pemerintah, dan infrastruktur di Balochistan. Wilayah tersebut telah lama dilanda pemberontakan dengan kelompok separatis yang menuntut otonomi atau kemerdekaan.